'Bumi Masih Rentan terhadap Serangan Asteroid'

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Senin, 19/09/2016 13:12 WIB
'Bumi Masih Rentan terhadap Serangan Asteroid' Iustrasi Asteroid (Dok. NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bumi merupakan planet yang dinilai masih rentan terhadap serangan asteroid dari luar angkasa yang berpotensi menyebabkan malapetaka bagi kehidupan.

Pendapat tersebut setidaknya berasal dari direktur divisi Science and Technology Policy Gedung Putih Amerika Serikat, John Holdren.

Selama ini badan antariksa AS (NASA) memang telah menghasilkan temuan baru mengenai asteroid yang kemungkinan berbahaya bagi Bumi. Menurut Holdren, manusia masih harus berupaya lebih keras lagi.


"Kita belum sepenuhnya bersiap. Kita berada di lintasan berpotensi mendapat ancaman (terkena hantaman asteroid) itu," ujar Holdren di sela diskusi proyek Asteroid Redirect Mission (ARM) di Goddard Space Flight Center NASA baru-baru ini.

Mengutip CBS News, Holdren sempat menyinggung soal ledakan meteor di kota Chelyabinsk di Rusia pada Februari 2013, serta bola api yang menghancurkan kawasan Tunguska pada 1908. Menurutnya, kejadian nahas yang disebabkan dari objek luar angkasa harus ditangani dengan serius.

Meteor dengan lebar 19 meter yang menyerang Chelyabinsk beberapa tahun lalu itu menewaskan sekitar 1.200 orang. Bagaimana tidak, kekuatannya kala itu disamakan seperti energi 500 ribu ton TNT.

Sementara peristiwa Tunguska kekuatannya lebih dahsyat. Batu antariksa yang lebarnya 39 meter meledak di area tak berpenghuni di Siberia dan membinasakan hutan seluas 1.287 kilometer persegi.

"Kita semua tahu bahwa bencana seperti itu memang bisa terjadi," tukas Holdren.

Holdren pun menambahkan, hantaman besar seperti Chelyabinsk diperkirakan terjadi seratus tahun sekali. Sementara peristiwa Tunguska dipercaya terjadi sekitar 1.000 tahun sekali.

"Jika kita mau menjaga peradaban manusia melalui kemajuan teknologi yang kita kembangkan, kita harus mempersiapkan peristiwa langka seperti itu karena akan banyak kerusakan yang dialami oleh Bumi," imbuhnya.

Dengan kata lain, ia menginginkan manusia bisa terus menjaga kehidupan yang ada di Bumi agar jangan sampai lenyap seperti peradaban dinosaurus.

"Bencana ini yang dialami era dinosaurus 65 tahun lalu. Kita harus lebih pintar dari mereka," serunya.

NASA siap memburu

Proyek ARM dari NASA dipercaya Holdren bisa menjadi sarana edukasi ke masyarakat. Rencananya, NASA akan meluncurkan pesawat antariksa robotika menuju asteroid yang dekat dengan Bumi pada akhir 2021.

Target asteroid yang akan dituju adalah 2008 EV5 yang lebarnya 400 meter.

Secara ringkas, pesawat robotika itu akan menghampiri si asteroid lalu 'memetik' batuan dari permukaannya, dan terbang untuk sementara di atas batu tersebut. Selagi terbang di atasnya, pesawat NASA akan menginvestigasinya.

Setelah selesai, pesawat robotika NASA akan kembali ke Bumi dan menyimpan batuan itu di orbit sekitar Bulan. Lalu pada pertengahan 2020an, astronaut yang terbang menggunakan kapsul Orion akan mengunjungi batu tersebut.

Sekadar diketahui proyek ARM dari NASA senilai US$1,25 miliar itu bertujuan mempelajari asteroid dan segala unsur komposisi yang dikandungnya.

Baik dari Holdren atau pun NASA sama-sama meyakini bahwa tidak sedikit asteroid yang berpotensi menghantam Bumi.

NASA sendiri belum lama ini baru meluncurkan pesawat antariksa nirawak Osiris-Rex yang bertugas memburu asteroid Bennu pada Kamis (8/9) waktu Amerika Serikat.

Seperti yang diketahui pada awal Agustus kemarin, asteroid Bennu disebut-sebut berpotensi menghantam Bumi di masa depan layaknya film "Armageddon" garapan sutradara Michael Bay.

Bennu memiliki ukuran diameter 487 meter dan bergerak di kecepatan 101 ribu kilometer per jam di sekitar Matahari.

Pada 2135, Bennu diprediksi bakal terbang melintas antara Bulan dan Bumi, yang notabene jaraknya sangat dekat berdasarkan ilmu antariksa. (tyo)