Inovasi Digital di Pasar Modal adalah Keniscayaan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 03/10/2016 12:45 WIB
Inovasi Digital di Pasar Modal adalah Keniscayaan Ilustrasi foto Mandiri Sekuritas, (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak banyak orang Indonesia yang bertransaksi dalam pasar modal. Pemilik akun pasar modal negeri ini terhitung hanya berkisar sekitar 500 ribu yang berarti hanya berkisar 0,2 persen total populasi.

Angka tersebut jauh sekali dengan perbandingan yang ada di negara Asia lain seperti Malaysia 12,8 persen dan Singapura 30 persen.
 
Di sisi lain inovasi digital dalam keuangan terus berkembang bercermin dari suburnya perusahaan rintisan financial technology atau fintech yang bermunculan. Seperti dalam bidang lain, fintech merombak banyak hal cara kerja sistem keuangan. Metode pembayaran online merupakan contoh terbaik  yang mulai diadaptasi oleh masyarakat perkotaan Indonesia secara umum.

Namun masih sedikit fintech yang bergerak dalam menjembatani kebutuhan investor dengan pasar modal di nusantara. Hal tersebut menjadi peluang bagi perusahaan broker seperti Mandiri Sekuritas untuk bertransformasi menjadi perusahaan fintech di industri pasar modal.
 
Upaya Mandiri Sekuritas tercermin dari diperkenalkannya fitur video call dalam proses verifikasi calon nasabah atau Know Your Customer ketika hendak membuka rekening baru di aplikasi Mandiri Online Security Trading (MOST). Inovasi ini berdampak pada calon nasabah yang cukup membuka aplikasi seperti Skype atau iFace untuk memastikan wajahnya dikenal oleh petugas.
 

Diluncurkan sejak bulan lalu, layanan dengan fitur ini membuat Mandiri Sekuritas memperoleh 1.200 calon nasabah baru dari seluruh dunia. Angka tersebut di luar ekspektasi anak perusahaan Bank Mandiri ini. Namun menilik statistik calon nasabah yang mendaftar di Mandiri Sekuritas selama 3-5 tahun ke belakang, pendaftar online memang lebih banyak.
 
“Kalau melihat statistik bisnis retail kami 3-5 tahun ke belakang antara customer online dan customer yang ke cabang itu lebih besar yang online dengan perbandingan 35 ribu dan 15 ribu. Itu artinya sesuai dengan perkembangan teknologi,” jelas Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir.
 
Mandiri Sekuritas bukan satu-satunya yang memiliki layanan jual-beli saham secara online. Hanya saja fitur video call untuk KYC membedakan mereka dengan kompetitor mereka. Namun bukannya aplikasi MOST tanpa cela. Satu hambatan yang masih mengganjal adalah keharusan calon nasabah mengirimkan tanda tangan basah ke kantor cabang sesuai amanat Peraturan OJK Nomor 22 Tahun 2014.
 
Dalam skala global, banyak sekali fintech yang bergerak di layanan pasar modal. Robinhood misalnya. Fintech asal Amerika Serikat ini beroperasi dengan mengendepankan efisiensi perdagangan saham. Melalui aplikasi ini, calon investor tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk komisi pialang tiap transaksi. Padahal di AS, komisi untuk perusahaan broker bisa mencapai US$10 per transaksi.

Pendiri Robinhood, Vlad Tenev dan Baiju Bhatt punya keyakinan setiap orang harus memiliki akses ke pasar finansial dan mampu menginspirasi generasi investor baru untuk muncul ke permukaan. Bagi kedua lulusan Universitas Stanford ini, teknologi adalah satu-satunya yang bisa memberikan kesempatan tersebut.
 
Di Indonesia sendiri, potensi berkembangnya perusahaan fintech sangat besar. Beberapa yang terkenal seperti bareksa.com, cekaja.com, dan Doku merupakan contoh perusahaan rintisan fintech yang telah berkembang. Potensi dari demografi dan pertumbuhan konektivitas digital Indonesia merupakan pupuk untuk perkembangan industri fintech di Indonesia.
 
Melihat perkembangan tersebut, Silvano melihat peluang yang ada memang menjanjikan. “Saya rasa bagus, minatnya banyak, tapi kan masih mencari bentuk. Namun dengan melihat animonya sangat menjanjikan dan kita dukung,” kata pria 39 tahun itu.


Jumlah penduduk Indonesia yang dapat mengakses internet tercatat telah mencapai angka 133 juta. Proyeksi Badan Pusat Statistik menyebut pada 2020 peningkatan penduduk kelas menengah adalah syarat yang menjanjikan bagi industri fintech di masa depan. (tyo)