Telkomsel Tetap Bersikukuh Blokir Netflix

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Senin, 28/11/2016 08:48 WIB
Faktor yang dianggap tidak memenuhi regulasi dan adanya konten pornografi menjadi dua alasan utama Telkomsel tetap bersikukuh memblokir Netflix. Ilustrasi (Foto: Dok. Telkomsel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telkomsel masih tetap pada pendirian awal perihal layanan video streaming Netflix yang belum bisa diakses pelanggannya. Hal itu ditegaskan oleh Senior Vice President Consumer Marketing Telkomsel Venusiana Papasi.

"Kita masih belum bisa menjawab itu ya. Tapi yang pasti kita mengikuti peraturan legal yang masih berlaku," ujar Venusiana dalam peluncuran platform video streaming VideoMAX di Jakarta, Jumat (25/21).

Venus mengaku kebijakan perusahaan telekomunikasi pelat merah tempatnya bernaung tak akan berubah selama ketentuan pemerintah juga tak berubah.



"Kita ikut pemerintah, jadi selama belum berubah kita ikut ketentuannya yang ada aja," tambah Venus.

Telkomsel dan Telkom yang merupakan BUMN tersebut diketahui telah memblokir layanan Netflix sejak awal tahun 2016 ini. Faktor yang dianggap tidak sesuai dengan regulasi dan adanya konten pornografi menjadi dua alasan utama pemain industri telekomunikasi ini memblokir Netflix.

Namun Telkomsel yang tak mau ketinggalan menyediakan layanan video streaming dengan menggandeng Hooq, perusahaan serupa Netflix yang bermain di pasar Asia seperti India, Thailand, dan Filipina. Kerja sama tersebut resmi berjalan sejak pertengahan tahun.


Venus sendiri menyebut layanan video-on-demand dengan Hooq telah mengajak pihak ketiga untuk menyisir konten berunsur pornografi dan yang dianggap tak pantas lainnya. Meski demikian, ia justru enggan menyebut siapa pihak ketiga yang bertugas menjaga konten mereka.

"Kita sudah gandeng pihak ketiga untuk melakukan sensor konten, mirip seperti lembaga sensor. Tapi kita nggak bisa kash tau siapa pihak ketiganya ya," ucapnya sembari tersenyum.

Netflix sendiri hingga saat ini merupakan penguasa pasar layanan video streaming di Amerika Serikat dengan nilai pasar sebesar 36 persen. Berkat serial seperti Stranger Things, House of Cards, serta Narcos, kepopuleran Netflix melesat ke mancanegara termasuk Indonesia. (evn)