Antara iPhone 'Made in US' dan Ge'er'-nya Indonesia

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 09/12/2016 14:01 WIB
Antara iPhone <i>'Made in US'</i> dan Ge'er'-nya Indonesia Donald Trump (Foto: Reuters/Steve Marcus/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah artikel satir dibuat kolumnis Tim Culpan dari Bloomberg berjudul "Dear Trump, About Those U.s iPhones" menyindir rencana Donald Trump mengangkut seluruh produksi iPhone kembali ke Amerika Serikat.

Salah satu sindirannya menyinggung pemerintah Indonesia yang mengklaim berhasil menarik Foxconn berinvestasi di dalam negeri pada 2012 silam.

Dalam tulisan tersebut, Culpin berperan seolah sebagai Terry Gou, pendiri dan bos Foxconn Technology Group. Foxconn sendiri merupakan rekan terbesar Apple untuk memproduksi iPhone, iPod, dan iPad.
Antara iPhone <i>'Made in US'</i> dan Ge'er’-nya Indonesia
Pendiri Foxconn, Terry Gou (Foto: REUTERS/Kyodo)

Menurut Culpin, Foxconn tak akan pernah memproduksi iPhone di Indonesia. Ia memberi kesan bahwa klaim pemerintah cenderung bertujuan politis di balik klaim mereka.


Klaim yang dimaksud Culpin adalah kabar Foxconn yang hendak berinvestasi hingga US$10 miliar yang diumumkan pada Agustus 2012. Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat itu menyebut Foxconn bakal memproduksi 3 juta unit ponsel per tahun dengan periode 5-10 tahun.

Sebagai perusahaan pabrikan ponsel terbesar di dunia dengan klien seperti Apple, Microsoft, Sony, Nokia, hingga Blackberry, Foxconn adalah perusahaan perakit barang elektronik terbesar di dunia. Laporan keuangan Foxconn mencatat mereka memperoleh US$75 miliar atau Rp1.000 triliun pemasukan dari Apple tahun lalu.

Tulisan ini seolah menjadi semacam saran kepada Trump yang ingin memperluas kesempatan kerja bagi penduduk AS. Hal ini sekaligus tamparan keras bagi pemerintah Indonesia terhadap klaim prestasi menggaet perusahaan teknologi luar yang mengaku telah berinvestasi di Indonesia.

"Aku tahu kau ingin menciptakan banyak lapangan kerja, jadi saya ingin berikan saran. Pertama, kau tak perlu sungguhan menciptakannya. Bikin saja orang berpikir bahwa kau telah menciptakannya. Aku yakin konsep itu familiar denganmu," tulis Culpin.

Secara tidak langsung, Culpin seperti memberi peringatan kepada negara-negara ketiga seperti China, Indonesia, Brasil, dan India, yang tenaga kerja dan sumber dayanya murah.

Ia memberi contoh bagaimana Foxconn terkesan 'mengakali' pemerintah Brasil dalam pendirian pabrik yang diumumkan sejak 2011.

Laporan Reuters bertanggal April 2015 menyebut pemerintah lokal Brasil di kota Itu mengaku frustasi dengan janji kosong Foxconn yang ingin berinvestasi US$12 miliar dan membuka 100.000 pekerjaan baru.

"Masyarakat benar-benar frustasi. Kami berharap ada pekerjaan namun masih janji kosong belaka," pungkas dewan kota Itu Givanildo Soares da Silva.

Akhir November lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara melaporkan bahwa Apple telah menyetujui membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) tahun depan. Menurut Rudiantara, Apple telah memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Kementerian Perindustrian.

"Apple sudah mendapatkan sertifikasi dari Kemenperin. Sekarang mereka sedang mencari lokasi di Jakarta," ucap Rudiantara di Jakarta, Selasa (29/11) lalu.

Rudiantara menganggap kesepakatan Apple masuk ke Indonesia sebagai keberhasilan pemerintah. Pemerintah tidak mengungkap nilai investasi Apple, namun mereka dikabarkan akan mulai membangun pusat R&D di tahun depan.

Foxconn yang berasal dari Taiwan ini sebenarya sudah merilis ponsel cerdas besutannya sendiri ke Indonesia dengan nama Luna. Foxconn menargetkan Luna diproduksi hingga 20 ribu unit per bulan.

(tyo)