'e-Commerce Belum Bisa Salip Bisnis Ritel'
CNN Indonesia
Kamis, 23 Mar 2017 10:35 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Haryanto Pratantara menyebut usia 15-30 tahun (generasi milenial) yang sangat fasih menggunakan teknologi merupakan pasar yang sangat potensial bagi industri e-commerce.
Generasi inilah yang dinilai menjadi bahan bakar utama pertumbuhan industri e-commerce saat ini dan diprediksi akan terus membesar seiring bertambahnya usia mereka.
Itu sebabnya Haryanto yakin untuk saat ini e-commerce belum bisa menyalip kedigdayaan industri ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia.
"Tidak dalam waktu dekat, masih perlu waktu," ucap Haryanto di Jakarta, Selasa (21/3).
Namun untuk beberapa kategori seperti salah satunya barang elektronik, Haryanto mengakui e-commerce akan segera menyusul pencapaian ritel dan toko fisik.
"Di smartphone misalnya kami terpukul sekali dari e-commerce," imbuh Haryanto.
Meski tumbuh subur beberapa tahun terakhir, industri e-commerce dinilai belum bisa menyaingi industri ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia. Ia mengklaim bila dibandingkan nilai industri ritel, pertumbuhan industri e-commerce masih terbilang mungil.
Berdasarkan laporan Google dan Temasek pada 2016, penetrasi pasar e-commerce di Indonesia baru satu persen. Padahal animo pelaku industri ini terus berkembang dilihat dari pemain baru yang terus bermunculan.
Haryanto pun menyentil cara berkembang industri e-commerce yang masih bergantung oleh harga yang murah. Sementara nilai praktis yang menjadi nilai utama e-commerce jadi nomor dua yang dilirik oleh konsumen Indonesia.
Pada ajang Indonesia e-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016, Presiden Joko Widodo sempat memperingatkan pusat perbelanjaan yang akan segera tergusur oleh e-commerce bila tak berbenah.
"Saya membayangkan kalau ini (industri e-commerce) diteruskan, nanti banyak mal yang tutup," tutur Jokowi saat itu.
Generasi inilah yang dinilai menjadi bahan bakar utama pertumbuhan industri e-commerce saat ini dan diprediksi akan terus membesar seiring bertambahnya usia mereka.
Itu sebabnya Haryanto yakin untuk saat ini e-commerce belum bisa menyalip kedigdayaan industri ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:'E-commerce Jadi Referensi Mencari Hadiah' |
Namun untuk beberapa kategori seperti salah satunya barang elektronik, Haryanto mengakui e-commerce akan segera menyusul pencapaian ritel dan toko fisik.
"Di smartphone misalnya kami terpukul sekali dari e-commerce," imbuh Haryanto.
Berdasarkan laporan Google dan Temasek pada 2016, penetrasi pasar e-commerce di Indonesia baru satu persen. Padahal animo pelaku industri ini terus berkembang dilihat dari pemain baru yang terus bermunculan.
Haryanto pun menyentil cara berkembang industri e-commerce yang masih bergantung oleh harga yang murah. Sementara nilai praktis yang menjadi nilai utama e-commerce jadi nomor dua yang dilirik oleh konsumen Indonesia.
Pada ajang Indonesia e-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016, Presiden Joko Widodo sempat memperingatkan pusat perbelanjaan yang akan segera tergusur oleh e-commerce bila tak berbenah.
"Saya membayangkan kalau ini (industri e-commerce) diteruskan, nanti banyak mal yang tutup," tutur Jokowi saat itu.