Dalam rilisnya, Samsung menjelaskan bahwa delapan kali pengecekan tersebut untuk memastikan ketahanan terhadap tekanan dan temperatur ekstrem. Samsung juga melakukan pengecekan visual pada setiap baterai menggunakan kriteria yang terstandarisasi dan sesuai dengan obyektif.
Kali ini, Samsung melakukan uji X-Ray yang sebelumnya diminta oleh pemerintah Korea Selatan demi menanggulangi kejadian Note 7 terulang. Tes ini berguna untuk melihat kedalaman baterai untuk memeriksa kemungkinan adanya kejanggalan.
Setiap baterai Samsung juga menjalani proses tes charge/discharge berkali-kali untuk memastikan baterai memiliki sistem pengisian yang aman dan baik. TVOC Test juga diberikan untuk memastikan sama sekali tidak ada kebocoran komponen baterai dari perangkat yang sudah lengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono |
Pengecekan yang dilakukan Samsung diklaim Gallant sudah jauh melebihi yang dilakukan kompetitor. Ia mengatakan produsen lain biasanya hanya melakukan 2-3 kali point check, sementara Samsung telah mempunyai 8 point pengecekan baterai.
Yang terakhir, Samsung juga memberikan pengujian OCV test yang berguna untuk memonitor setiap perubahan voltase selama proses pembuatan dari tahap komponen hingga perangkat yang sudah lengkap.
Seperti diketahui, tahun lalu Samsung terpaksa menarik seluruh Galaxy Note 7 secara global hanya dua bulan setelah perkenalannya pada Agustus 2016. Samsung juga harus menelan kerugian Rp39,2 triliun karena insiden ledakan baterai Note 7.
Belakangan beredar kabar Samsung bakal menjual versi rekondisi dari Galaxy Note 7 setelah mereka resmi mengumumkan bahwa baterai memang menjadi biang keladi kecelakaan besar-besaran itu. Namun Samsung Indonesia tidak bisa memberikan jawaban ketika disinggung hal tersebut.
"Sejauh ini belum ada informasi yang masuk mengenai nasib Note 7 dan apakah versi rekondisi itu akan masuk Indonesia," imbuh Danny.
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono