SpaceX Siapkan Misi Tandingan Google Loon dari Luar Angkasa

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Jumat, 05/05/2017 10:09 WIB
SpaceX Siapkan Misi Tandingan Google Loon dari Luar Angkasa SpaceX menyiapkan misi peluncuran satelit yang bisa menyediakan akses internet dari luar angkasa. (Foto: SpaceX)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karakter visioner Elon Musk sudah tidak perlu diragukan lagi. Pendiri sekaligus CEO Tesla Motor dan SpaceX ini sudah mencetuskan sejumlah ide futuristik di bidang teknologi dan transportasi.

Tak berhenti sampai disitu, Musk kembali memiliki wacana baru untuk menyiapkan akses internet yang dipancarkan dari luar angkasa.

Wakil Presiden SpaceX, Patricia Cooper menegaskan rencana perusahaan untuk menempatkan sebuah satelit yang bisa menyediakan akses internet ke planet di sekitarnya. Sehingga akses internet bisa dinikmati oleh masyarakat di berbagai pelosok Bumi.


Mengutip The Verge, rencananya saat ini perusahaan sedang mengembangkan satelit purwarupa yang rencananya meluncur di awal 2018. Jika proses ini berhasil, rencananya SpaceX akan mulai membangun jaringan internet tepat di tahun 2019.

Sejalan dengan rencana itu, perusahaan rencananya juga akan meluncurkan satelit tambahan secara bertahap sampai tahun 2024.

Cooper memastikan di tahun tersebut SpaceX sudah bisa menyedikan jaringan dengan kapasitas penuh yang beroperasi pada frekuensi Ka dan Ku-band. Untuk memboyong satelit ini, SpaceX tentu akan mengandalkan roket rekondisi Falcon 9.

Nantinya satelit pemancar internet akan membawa satelit ke orbit Bumi dengan ukuran yang membantu menghemat daya.

Dalam sekali peluncuran, SpaceX berencana menempatkan 4.425 satelit yang beroperasi di 83 pesawat dengan ketinggian yang cukup rendah antara 1.110km hingga 1.325 kilometer yang mengorbit di sekitar Bumi. Untuk memastikan semuanya berjalan lancar, akan ada fasilitas pusat pengendali di Bumi.

Meski berpotensi memberikan akses internet merata, namun misi masa depan SpaceX ini menuai nada sinis. Mengingat banyaknya jumlah satelit yang akan mengorbit tentu berpotensi mengacaukan ruang di sekitar Bumi dan memperparah jumlah sampah di luar angkasa.

Menanggapi hal ini, Cooper memastikan pihaknya akan mengugnakan jaringan berbasis ruangsehingga perusahaan tidak perlu memasang, merobek, dan memasang ulang kabel untuk memberikan layanan. "Sudah menjadi tantangan umum terkait sampah antariksa, peletakan serta karbon dan penanganan hak kepemilikan secara material yang sebenarnya bisa dikurangai melalui jaringan broadband berbasis ruang angkasa," imbuhnya.

Cooper juga memastikan pihaknya tidak akan menjadikan proyeknya ini berakhir sebagai satelit sia-sia hanya dalam waktu singkat setelah diluncurkan. SpaceX memastikan dukungan jaringan yang disediakan akan beradaptasi dengan kebutuhan sehingga akan mengalokasikan sumber daya ke area tertentu demi menghindari gangguan pada sistem lain