Ilmuwan Temukan Planet Mirip Saturnus dengan Air di Atmosfer

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Sabtu, 13/05/2017 03:43 WIB
Ilmuwan Temukan Planet Mirip Saturnus dengan Air di Atmosfer Ilustrasi Planet Neptunes (DokNASA/JPL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para astronom telah menemukan exoplanet seukuran Neptunus yang  kaya akan air di atmosfernya. Sayangnya, planet ini jauh di luar sistem tata surya.

Planet yang dinamai HAT-P-26b ini pertama kali terlihat pada 2011 mengorbit sebuah bintang 430 tahun cahaya jauhnya. Dia ditemukan oleh Jaringan Teleskop Otomatis buatan Hungaria (HAT).

Planet ini ditemukan karena merupakan planet transit, yang berarti secara periodik melewati antara bintang dan Bumi di orbitnya. Selama melewati atau transit, planet secara berkala meredupkan cahaya bintang, membuat cukup banyak perubahan yang dapat dilihat dari Bumi.


Dengan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA, para astronom mengamati cahaya bintang yang tersaring selama empat transit HAT-P-26b yang berbeda, dan dapat mengetahui berapa banyak air di atmosfernya. Meski massanya mirip dengan Neptunus, radiusnya jauh lebih besar, sekitar 40 ribu km dibandingkan dengan Neptunus 25 ribu km.

"Setiap molekul menyerap cahaya dengan cara yang berbeda," kata Hannah Wakeford, peneliti postdoctoral di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard milik NASA dan penulis utama studi tentang HAT-P-26b yang diterbitkan hari ini di Science.

"Jadi kami mencari kekhasan molekul yang berbeda itu,” tambahnya.

Ini bukan pertama kalinya air ditemukan di atmosfer planet lain. Sebenarnya, air cukup umum di atmosfer planet di Bimasakti. Semua raksasa planet gas di Bima Sakti seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki air di sekitar mereka. Tapi menemukan air di atmosfir exoplanet bisa sangat sulit, karena mereka begitu jauh.

Namun dari pengamatan astronom, HAT-P-26b mirip dengan Neptunus yang merupakan palnet raksasa gas sehinggat tidak mungkin akan mendukung kehidupan meski ada air di atmosfernya.

Tapi mengetahui kandungan air membantu Wakeford dan timnya mencari tahu apa lagi yang beredar di atmosfer planet ini.

Berdasarkan pengukuran Hubble, nampaknya ada unsur berat atau unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium. Kelimpahan elemen berat ini dikenal sebagai metallicity, dan ini memberi tahu kondisi seperti kapan sebuah planet terbentuk.

Berdasarkan metalik yang diasumsikan ini, Wakeford berpendapat bahwa HAT-P-26b mungkin terbentuk lebih dekat dengan bintangnya daripada sekarang karena dia memiliki tingkat metallicity yang sangat tinggi. Ini juga berarti bahwa dia memiliki kandungan elemen berat yang besar seperti Jupiter dan Saturnus.

Namun, Kevin Heng, ahli exoplanet dari  University of Bern di Swiss mengatakan bahwa pengukuran air sangat penting dan kemampuan itu adalah kabar baik untuk mempelajari planet-planet ekstrasurya lebih lanjut.

Mempelajari atmosfer secara rinci adalah kunci untuk mencari tahu bagaimana rasanya di permukaan planet ekstrasurya.

HAT-P-26b mungkin tidak sesuai untuk kehidupan, tapi ada planet lain yang mungkin bisa menjadi harapan. Semakin baik manusia mempelajari atmosfir, semakin dekat mereka dengan penemuan planet ekstrasurya dengan atmosfir dan komposisi yang sesuai untuk kehidupan.