Smartfren Belum Tergoda Ramaikan Bisnis e-Commerce

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 17/05/2017 03:38 WIB
Smartfren Belum Tergoda Ramaikan Bisnis e-Commerce Smartfren belum tertarik membentuk perusahaan atau bekerjasama mendirikan bisnis di bidang e-commerce. (Foto: Thinkstock/Creativa Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Operator seluler Smartfren tidak berkeinginan terjun sebagai penyedia jasa e-commerce. Mereka tidak akan mengikuti langkah operator lain yang mengembangkan perusahaan atau lini bisnis e-commerce.

Munir Syahda Prabowo, Vice President Network Smartfren, menyebut kemungkinan mereka terjun sebagai pemain utama di dunia e-commerce sangat kecil. Namun menurutnya hal itu tak berarti mereka tak ikut sama sekali dalam industri e-commerce.

Alih-alih mendirikan perusahaan e-commerce, Smartfren bermaksud mengambil keuntungan di sana dengan menyediakan sistem pendukung operasional e-commerce.

"Untuk jaringannya kita siapkan untuk segala platform yang sifatnya mendukung," ujar Munir di Jakarta, Senin (15/5).


Munir mengatakan, mereka sudah punya sejumlah aplikasi penunjang yang sudah beroperasi seperti Uangku yang berfungsi sebagai aplikasi pembayaran mobile.

Alasan lain yang diberikan Munir adalah perlu kerja ekstra untuk terjun langsung sebagai pemain utama di industri e-commerce. Dan lagi-lagi ia mengungkapkan anak perusahaan Sinar Mas ini tidak akan ikut karena fokus mereka akan terpecah.

Geliat industri e-commerce memang menggoda sejumlah operator telekomunikasi untuk ikut ambil bagian. XL Axiata misalnya bersama SK Planet, perusahaan e-commerce asal Korea Selatan, mendirikan marketplace di Indonesia bernama Elevenia sejak 2013 lalu.

Sementara Grup Telkom membangun joint venture dengan eBay untuk melahirkan platform e-commerce Blanja.com. Blanja.com yang kini dinakhodai oleh Aula Marinto diperkenalkan pertama kali ke publik pada 2014.

Potensi yang begitu besar dari industri e-commerce adalah potensi keuntungan bagi operator seluler. Merespon potensi itu, pemerintah pun memberikan sejumlah stimulus untuk industri ini agar target US$130 miliar tercapai pada 2020 nanti.