Masih Merugi, Pendapatan Smartfren Ditopang Pelanggan CDMA

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Jumat, 16/06/2017 09:41 WIB
Masih Merugi, Pendapatan Smartfren Ditopang Pelanggan CDMA Keputusan untuk mengoperasikan jaringan CDMA dan LTE membuat biaya operasional Smartfren membengkak. (Foto: Safrya Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendapatan Smartfren di tahun 2016 dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 20 persen mencapai Rp3,6 miliar, namun di sisi lain masih merugi. CEO Smartfren Telecom Merza Fachys mengungkapkan ada beberapa kondisi yang menjadi penyebabnya.

Dari sisi jumlah pelanggan, saat ini Smartfren telah mengantongi 11,1 juta pelanggan dari sebelumnya 11 juta di tahun 2015. Peningkatan juga tercatat dari sisi pendapatan per pelanggan (ARPU/ Average Revenue Per User) sebesar 30 persen menjadi Rp28.200. Dua hal tersebut turut berkontribusi dalam peningkatan kinerja Smartrfren di tahun 2016.

"Pelanggan memang tidak tumbuh signifikan, hal ini lantaran kami berupaya menjaga loyalitas pelanggan yang migrasi dari CDMA ke LTE. Namun penggunaan mereka saat beralih ke LTE cenderung meningkat," pungkas Merza disela konferensi media usai RUPSLB di Jakarta, Rabu (14/6).

Akibat proses transisi itu, Merza mengakuinya jika biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Terlebih proses transisi yang disebutnya sebagai pekerjaan rumah yang berat.


Ia bercerita hingga saat ini Smartfren masih berupaya meubah image perusahaan yang masih identik dengan penyedia jaringan CDMA. Menurutnya, Smartfren telah gencar berupaya 'merayu' penggguna CDMA agar beralih ke jaringan LTE.

Hanya saja, hasilnya hingga kini masih ada pengguna CDMA yang memilih pilihan untuk bermigrasi atau tidak ada di tangan pelanggan. Meski diakui menghabiskan biaya yang tidak besar karena menyelenggarakan dua jaringan, di satu sisi Merza mengakui pendapatan dari pengguna CDMA masih signifikan.

Sekitar 35 persen dari total persen pendapatan Smartfren diperoleh dari pengguna CDMA. Hal ini yang disebutnya sulit untuk mematikan jaringan demi menekan biaya.

"Biaya memelihara jaringan CDMA dan LTE memang berimbas pada naiknya biaya operasional. Tapi di sisi lain pendapatan dari CDMA masih cukup signifikan, makanya tidak bisa matikan begitu saja," pungkasnya.

Merza mengungkapan ada tiga besar area yang memiliki pengguna CDMA terbesar yakni di Jawa, Bali, dan Sumatera.

Lebih lanjut ia menargetkan jika sampai akhir tahun ini semakin banyak pelanggan yang beralih ke LTE, Smartfren akan otomatis mematikan jaringan CDMA. Dengan begitu diharapkan biaya operasional yang dikeluarkan bisa ikut turun.

Ketika disinggung sampai kapan Smartfren akan mempertahankan jaringan CDMA, ia mengaku ingin melakukannya secepat mungkin.

"Maunya secepatnya, tapi tidak ada peraturan yang memaksa untuk mematikan CDMA. Terlebih dengan teknologi netral, kami masih diizinkan menggunakan frekuensi 800 MHz untuk CDMA dan LTE," pungkasnya.