Proses normalisasi dimulai sejak pukul 10.46 WIB pada Kamis (10/8). Sebanyak 166 channel konten negatif terorisme dan radikalisme yang dilaporkan Kominfo dan lembaga terkait lainnya telah ditutup Telegram.
“Jadi setelah progress yang sama-sama dikerjakan Telegram dengan Kominfo, hari ini Telegram sepenuhnya dibuka sehingga masyarakat bisa sepenuhnya menggunakan dan memanfaatkan Telegram website,” terang Rudiantara kepada awak media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, Telegram akan menugaskan perwakilan khusus di Indonesia yang akan berhubungan langsung dengan pemerintah jika dibutuhkan komunikasi lanjutan. Secara sistem, perusahaan aplikasi chat asal Rusia tersebut juga berjanji akan membuat script, peranti lunak kecil untuk melakukan filtering di Telegram sendiri.
“Jika kita sedang cari konten yang berisi ISIS misalnya, ketik ISIS nanti konten-konten yang ada di Telegram akan muncul sehingga by sistem Telegram akan melakukan penutupan (channel/grup). Kemarin sudah setiap hari mereka melakukan suspend terhadap 10 channel atau grup yang bisa diakses di Indonesia,” terang Ully Taruli selaku Koordinator Trust Positif Kominfo.
“Jadi (SOP) kepada siapa menghubungi, bagaimana caranya, komunikasi seperti apa dengan service level pada hari yang sama diselesaikan. Mudah-mudahan kalau ada yang mengadukan konten ke kami, kita proses agar bisa ditindaklanjuti di hari yang sama untuk diturunkan jika kontennya memang negatif; terutama yang berhubungan dengan terorisme dan radikalisme,” terang Rudi.
Selain itu, Kominfo juga mendapatkan jalur khusus “report button” untuk menanggapi isu-isu atau konten-konten radikalisme dan terorisme di Telegram. Jalur ini juga akan digunakan Kominfo untuk menanggapi laporan secara cepat jika mendapat laporan dari lembaga atau kementerian lainnya.
Kendati demikian, saat CNNIndonesia.com mencoba mengaksesnya, hanya enam situs Telegram yang bisa diakses hingga pukul 14.44 WIB. Keenam situs tersebut antara lain adalah telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, dan web.telegram.org.
Lima situs lain termasuk pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, flora-1.web.telegram.org, t.me, dan venus.web.telegram.org belum bisa diakses.
“Proses normalisasi itu kan melibatkan ISP, itu kan kadang-kadang seberapa cepat mereka menanggapi… kan ada operator yang cepat. Ketentuannya 1x24 jam, besok pasti sudah bisa. Paling lama besok [sudah bisa mengakses],” jawab Dirjen APTIKA Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan di kesempatan yang sama.
Sekadar informasi, Kominfo menutup 11 DNS Telegram pada 14 Juli silam karena menemukan konten bersifat radikal dan terorisme dalam channel aplikasi chat tersebut. Kominfo telah melakukan pertemuan dengan CEO Pavel Durov di Jakarta pada 1 Agustus lalu untuk membahas teknis penanganan konten negatif, terutama terkait terorisme.
Langkah normalisasi ini sesuai dengan janji Semuel yang berniat menormalisasi seluruh DNS Telegram di pekan kedua Agustus. (evn)