"Fondasi dasar Telegram adalah 100 persen komunikasi privat. Itu alasan perusahaan ini ada," tukas Durov dalam konferensi pers bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta, Selasa (1/8).
Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup banyak menggunakan layanan Telegram. Itu sebabnya ketika pemerintah menutup layanan situs web Telegram beberapa waktu lalu, protes mengalir cukup deras dari masyarakat.
Durov mengaku pentingnya Indonesia sebagai salah satu pasar Telegram di dunia. Ia mengatakan saat ini ada 20.000 pengguna yang bergabung ke layanan Telegram setiap harinya, sementara angka pendaftar baru per hari di level global mencapai 600.000.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asal Rusia tersebut mengatakan satu-satunya alasan yang membuat dirinya datang ke Indonesia adalah pembahasan penanganan konten terorisme. Menurutnya, Telegram masih mengutamakan prinsip privasi.
"Dan kalau kami menerima permintaan seperti itu, saya tak akan ada di sini hari ini. Itu bukan sesuatu yang bisa didiskusikan secara terbuka dengan pemerintah," tegasnya.
Kendati demikian, Durov mengaku sebagai layanan komunikasi publik, Telegram punya tanggung jawab dalam menangani konten bermasalah yang berseliweran di platform mereka, termasuk di Indonesia.