Samsung Didesak Putus Kerja Sama dengan 'Perusak' Hutan Papua

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 25/08/2017 19:30 WIB
Samsung Didesak Putus Kerja Sama dengan 'Perusak' Hutan Papua Samsung dinilai memakai pendapatan dari sektor elektronik, termasuk penjualan ponsel-ponsel kenamaan mereka, untuk mendanai dugaan deforestasi Korindo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Petisi daring SumofUs muncul untuk mendesak anak usaha raksasa elektronik Samsung menghentikan kerja sama dengan Korindo Group, perusahaan Korea Selatan terkait dengan bisnis minyak sawit.

Di sisi lain, Samsung baru saja meluncurkan Galaxy Note 8 di New York pada pekan ini.

Petisi itu muncul karena Korindo dituding sebagai perusahaan penyebab gundulnya puluhan ribu hektar hutan di Papua demi lahan perkebunan sawit.


Petisi ini sudah memperoleh 73.712 tanda tangan hingga berita ini diturunkan. Organisasi lingkungan Mighty Earth menargetkan 75.000 tanda tangan diperoleh untuk dikirimkan langsung ke markas Samsung di Korea Selatan.

Dengan berkolaborasi bersama Korindo, Samsung dinilai memakai pendapatan dari sektor elektronik, termasuk penjualan ponsel-ponsel kenamaannya, untuk mendanai dugaan deforestasi Korindo, perusahaan yang telah berdiri sejak 1969.
Korindo sendiri adalah perusahaan yang menjadi sorotan dalam laporan berjudul Burning Paradise: Palm Oil in the Land of the Tree Kangaroo bertanggal 1 September 2016 yang ditulis oleh Mighty Earth.

Laporan itu menyebutkan Korindo telah menggunduli 30.000 hektar hutan hujan dan menimbulkan hampir 900 titik api di wilayah konsesi perkebunan sawit di Papua dan Maluku Utara sejak 2013.

Akibat deforestasi yang dilakukan oleh Korindo, Mighty Earth khawatir habitat satwa asli seperti kangguru pohon dan pohon endemik akan musnah. Mereka berharap Samsung bisa segera menghentikan kolaborasi maut dengan Korindo untuk menghormati konsumen mereka.

Laporan itu juga merekam catatan buruk Korindo dalam mengambil alih tanah milik masyarakat adat tanpa persetujuan. Ketika sejumlah perusahaan memutus hubungan bisnis dengan Korindo, Samsung justru berkongsi dengannya.

Samsung Didesak Putus Kerja Sama dengan Perusak Hutan PapuaSamsung meluncurkan Note 8 namun di sisi lain dikritik karena bekerja sama dengan Korindo yang diduga terlibat deforestasi di Papua. (CNN Indonesia/Amelia Risartha)

Respons pengguna Samsung


Menanggapi hal itu, Keyza Widiatmika (24), salah satu pengguna produk Samsung, mengatakan kekecewaannya.

"Gue sedih baca ini, tiga tahun lalu gue di Korea Selatan, hampir semua orang di sana sangat bangga dengan Samsung," ujar Keyza pada Jumat (25/8).

Keyza memiliki Samsung Galaxy Tab A6. Ia membelinya sekitar enam bulan lalu. Menurutnya tablet Samsung yang ia beli punya kualitas baik dengan harga yang lebih terjangkau ketimbang iPad. "Dan servisnya gampang," sambungnya.
Hal berbeda disampaikan oleh Zanidia (24). Perempuan berprofesi karyawan swasta pemilik Galaxy S8 Plus ini menilai tujuan petisi cukup sulit untuk direalisasikan.

"Menurut gue terlalu jauh dan gue enggak bakal meninggalkan produk Samsung karenanya," ucap Zanidia.

Petisi terkait desakan pemutusan Samsung terhadap Korindo hingga saat ini masih dibuka. Di sisi lain, petisi itu juga membidik pengguna produk Samsung agar bisa mendesak produsen ponsel cerdas terbesar di dunia tersebut.
Samsung Didesak Putus Kerja Sama dengan 'Perusak' Hutan PapuaIlustrasi kebakaran hutan. (ANTARA FOTO/Feny Selly)

Momen besar Samsung

Samsung baru saja meluncurkan Galaxy Note 8 di New York. Note 8 adalah generasi terbaru dari seri Galaxy Note. Harga paling murah perangkat berkategori phablet ini adalah Rp12,4 juta per unit.

"Rabu (23/8) ini Samsung meluncurkan versi baru Galaxy Note mereka. Ini momen besar bagi perusahaan, dan mereka sama sekali tak mau berurusan dengan bencana PR lainnya," tulis Mighty Earth di laman mereka.

Tahun lalu, Samsung harus menanggung malu lantaran Note 7 yang belum lama mereka luncurkan harus ditarik dari peredaran. Laporan dari sejumlah pemilik Note 7 di sejumlah tempat di seluruh dunia diketahui perangkat tersebut meledak dan terbakar.

Hingga tulisan ini diturunkan, Samsung Indonesia belum memberi tanggapan soal petisi terkait dengan bisnis minyak sawit itu. Konfirmasi yang dikirim ke Vice President Samsung Indonesia, Lee Kang Hyun, masih belum direspons.
Sementara itu, Corporate Communication Manager Korindo Group Yulian Riza menyatakan pihaknya membutuhkan waktu untuk merespons masalah tersebut.

Walaupun demikian, Korindo Group PR melalui akun di Youtube menjelaskan tentang tudingan deforestasi tersebut beberapa waktu lalu. Jubir Korindo Group Luwy Leonufna mengatakan pihaknya selalu mematuhi peraturan yang berlaku.

“Pembukaan lahan yang kami lakukan tidak menggunakan api. Pembukaan lahan yang kami lakukan secara mekanis,” kata Luwy.
[Gambas:Youtube]


(asa)