Terkait hal itu, Presiden Direktur Merza Fachys mengaku ada beberapa alasan yang membuat masyarakat terutama di daerah enggan migrasi.
Unsur desain ponsel bukan satu-satunya alasan pengguna ponsel jadul masih setia dengan ponsel yang hanya didukung kemampuan telepon dan pesan singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Merza juga yakin bahwa pengalaman yang ditawarkan saat menggunakan 4G dan 2G berbeda. Pengguna ponsel yang sudah bukan milenial umumnya terjebak dengan perangkat yang simpel sedangkan perangkat 4G memang paling tidak harus mengerti tentang internet.
Smarfren Andromax Prime. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil) |
"(Alasan) yang ketiga ya tidak semua orang suka layar gede gede begini," lanjutnya.
Sementara itu, pengguna ponsel pintar saat ini berjumlah 68 juta orang atau 40 persen dari 300 juta pengguna seluler Indonesia. Sisanya sebesar 60 persen diyakini masih menggunakan ponsel 'jadul' (zaman dulu) alias feature phone.
Sebelumnya, Smartfren mengumumkan peluncuran Andromax Premium dengan desain khas ponsel 2G yang dilego seharga Rp350 ribu. Kendati demikian, Smartfren mengatakan bahwa perangkat ini sebenarnya dijual gratis karena penggunanya nanti akan mendapatkan cashback Rp10 ribu/ bulan selama 35 bulan.
