Rendahnya literasi di Indonesia disebut lantaran lebih banyak orang, terutama generasi milenial yang memilih menggunakan media sosial ketimbang membaca buku. Menanggapi hal itu, Ika Natassa, penulis novel 'Critical Eleven' memiliki tanggapan berbeda.
Ika mengaku tak setuju apabila media sosial disebut sebagai faktor yang menurunkan minat literasi. Sebaliknya, ia justru melihat media sosial sebagai peluang besar bagi penulis. Ia justru menjadikan media sosial sebagai pendobrak antara dunia fiksi dan nyata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media sosial menurutnya, bisa mendorong penulis untuk menciptakan tokoh dan melihat interaksi langsung dari pembaca. Keberadaan media sosial, secara tidak langsung juga bisa menjadi medium untuk menumbuhkan minat membaca.
Hal itu diutarakan berdasarkan pengalamannya saat menulis buku yang diangkat dari pollstory Twitter sehingga menghasilkan 14 episode dan mengantongi 40 rib pembaca dan 15 ribu poll. Pollstory saat ini kerap digunakan penulis untuk melibatkan pengguna Twitter dalam menentukan alur cerita.
Jika J.K Rowling memanfaatkan situs interaktif untuk para Muggle yang menyukai dunia sihir, Ika mengaku lebih memanfaatkan Twitter untuk berinteraksi dengan pembacanya. Berkat Twiter pula, ia berhasil menciptakan akun karakter fiksi superti @Alexandrarheaw, @KTedjakusuma, dan @AleRisjad.
"Aku nggak tahu ya awalnya gimana. Tapi mungkin karena kerja di bank itu stress ya jadi aku perlu sesuatu untuk melarikan diri. Aku iseng aja awalnya dengan akun Alexandra," terangnya ketika ditanyai dari mana idenya membuat akun Twitter karakter itu.
Selain sebagai pelarian, ia mengaku alasan membuat akun karakter juga untuk membuat keterikatan dengan karakter dan sebagai pengingat bagi pembaca. Ia juga mengaku media sosial menjadi jalan untuk berkolaborasi dengan pihak lain, termasuk pembacanya.
Ika mengungkapkan dunia penceritaan sebenarnya tidak bisa dikotak-kotakkan hanya sebagai tulisan di buku tetapi juga bisa disampaikan melalui medium apa saja termasuk media sosial. Media ini tidak hanya membuka kemungkinan untuk melihat seberapa besar keinginan pembaca untuk terlibat dengan cerita, tetapi juga bisa dijadikan sebagai ajang promosi yang terukur.