Twitter Setop Sesaat Kebijakan Verifikasi Centang Biru

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Sabtu, 11/11/2017 11:47 WIB
Twitter Setop Sesaat Kebijakan Verifikasi Centang Biru Ilustrasi: Twitter tengah mengkaji ulang penggunaan verifikasi centang biru untuk penggunanya. (dok. Screenshot via Twitter/taylorswift13)
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter mengkaji ulang fitur verifikasi akun untuk profil-profil yang dianggap berpengaruh. Fitur centang biru tersebut dianggap menimbulkan ambiguitas menyusul penyalahgunaan oleh sejumlah orang.

Umumnya, tanda centang biru kerap ditemukan di akun-akun publik figur mulai dari presiden, pejabat publik, selebriti, jurnalis, mereka yang dianggap punya pengaruh luas di publik.

Sementara waktu Twitter menghentikan pemberian centang biru kepada mereka yang menginginkannya. Hal ini dipicu oleh insiden unjuk rasa supremasi kulit putih di Charlotesville, Amerika Serikat.

Jason Kessler adalah koordinator gerakan tersebut. Tak lama dari unjuk rasa yang berakhir dengan aksi tabrak-lari itu, Kessler menulis cuitan yang justru mengolok-olok korban insiden, yang ternyata seorang perempuan yang menentang supremasi kulit putih dan turut serta dalam aksi protes tandingan di tempat yang sama dengan Kessler dan rombongannya.

Lalu pada 7 November yang lalu, Twitter justru memberikan tanda centang biru di akun @TheMadDimension milik Kessler. Twitter dianggap memverifikasi keberadaan akun penyebar kebencian. Tak ayal, protes dan kekecewaan mengalir deras ke perusahaan mikroblogging itu. 

Pihak Twitter mengakui centang biru yang mereka berikan kerap diartikan lebih dari proses otentifikasi. Simbol ini dianggap sebagai dukungan kepada profil terkait.

"Kami sadar bahwa kami menciptakan kerancuan ini dan harus memperbaikinya," kata divisi support Twitter dalam sebuah cuitannya.

Hal senada keluar dari mulut sang CEO Jack Dorsey yang mengungkapkan sistem verifikasi punya celah dan mengakui ia gagal menyikapi isu ini lebih baik.

"Tim kami sudah mengikuti kebijakan verifikasi dengan baik, namun kami sadar sistem ini rentan dan harus dipertimbangkan ulang. Kami gagal karena tak melakukan apa pun mengenai ini," tulis Dorsey.

Twitter dianggap bermain tak konsisten dalam menerapkan kebijakan centang biru ini. Pada kasus Donald Trump misalnya. Presiden AS itu berkali-kali membuat tweet berisi ancaman, perundungan, hingga hinaan yang berlawanan dengan nilai yang Twitter usung.

Masalahnya, figur seperti Trump adalah magnet bagi dunia Twitter yang penghuninya tak seramai di media sosial kompetitor. Melarang figur seperti Trump dari layanan mereka berarti menutup tirai salah satu panggung paling ramai di Twitter, atau dengan kata lain menghambat bisnis mereka.

Mungkin pada kasus Trump hal itu menjadi pengecualian karena ia adalah seorang presiden negara adidaya. Namun argumen itu patah ketika Twitter mematahkan permintaan verifikasi akun dari pendiri WikiLeaks Julie Assange yang memiliki 553 ribu pengikut. Sementara orang seperti Kessler justru mendapatkan centang biru tadi.

Akibatnya, Twitter menuai banyak desakan publik agar berbenah. Desakan itu juga datang dari karyawan mereka sendiri. "Kami seharusnya menghentikan proses yang sedang berlangsung di awal tahun ini, kami sadar ini kacau ketika orang bingung apakah ini  verifikasi ID atau bentuk dukungan," pungkas Ed Ho, manajer produk Twitter.


(evn/evn)