"Dalam beberapa minggu ke depan kami akan meluncurkan pusat transparansi terdepan di industri yang akan memberikan kejelasan bagi siapa saja soal siapa yang beriklan di Twitter, detil yang ada dibalik iklan itu, dan alat untuk berbagi umpan balikdengan kami," jelas General Manager for Revenue Product Twitter, Bruce Falck dalam tulisan di blog-nya.
Umpan balik yang dimaksud adalah terkait reaksi pengguna apakah mereka menyukai iklan tersebut atau tidak untuk tiap iklan yang muncul di Twitter. Dengan demikian, Twitter bisa memberikan iklan yang lebih relevan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transparansi
Inisiatif untuk membuka data iklan sebenarnya tak hanya diterapkan untuk iklan politik saja, tapi berlaku untuk semua iklan yang tayang di Twitter. Tapi, hanya iklan politik saja yang akan diberi titik ungu.
Falck juga menyebutkan kalau perusahannya akan memberikan ketentuan yang lebih ketat soal siapa yang bisa menggunakan iklan seperti ini dan membatasi pilihan target iklan.
Sebenarnya inisiatif ini sudah pernah diterapkan Twitter pada 2011. Twitter memberikan indikator ungu pada iklan politik. Saat mouse pengguna diarahkan ke indikator ini, mereka bisa melihat seluruh keterangan terkait iklan tersebut.
"Twitter adalah satu-satunya platform yang menyetel standar ini. Tapi tanpa dukungan pemerintah, perusahaan terpaksa menyerah pada arahan industri dan tuntutan pengiklan, untuk mengurangi transparansi," jelas Adam Sharp, mantan Kepala Pemberitaan, Pemerintah, dan Pemilihan di Twitter, seperti dikutip CNN.
Gara-gara Rusia
Pengumuman ini dibuat menyusul kasus yang dihadapi Twitter dan media sosial lain soal pembelian iklan besar-besaran oleh Rusia yang berusaha ikut campur dalam politik Amerika.
Lihat juga:Cuitan di Twitter Kini Bisa 280 Karakter |
Sebab, dalam kasus iklan Rusia itu, kebanyakan iklan yang dibuat tidak mengarah pada kandidat tertentu. Tapi iklan yang berkaitan dengan suatu isu, misal soal ras, pengungsi, pengendalian imigran dan pembatasan senjata. Hal inilah yang menurut Falck membuat iklan-iklan itu lebih sulit untuk dibedakan.
"Saat ini tak ada definisi yang jelas di industri soal iklan berbasis isu," tulisnya. "Tapi kami akan bekerjasama dengan perusahaan rekanan, pemimpin industri lainnya, pembuat kebijakan, dan rekan iklan untuk memberi batasan yang jelas untuk iklan semacam ini."
Twitter jadi yang pertama yang memberikan rencana komprehensif mengenai fitur pengungkapan iklan politik. Facebook dan Google yang juga menghadapi isu serupa masih belum memberi pernyataan. (eks)