Investor Desak Apple Selidiki Kecanduan Ponsel pada Anak

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Senin, 08/01/2018 14:15 WIB
Investor Desak Apple Selidiki Kecanduan Ponsel pada Anak Ilustrasi (Foto: Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terlahir di era digital, kebanyakan anak-anak diberikan akses menggunakan ponsel pintar oleh para orangtua. Para orangtua pun sebagian masih belum memahami dampak penggunaan ponsel pintar terhadap anak muda.

Salah satu produsen ponsel pintar, Apple mulai khawatir terhadap isu tersebut sehingga dua investor mereka yakni Jana Partners LLC dan California State Teachers’ Retirement System mendesak perusahaan Cupertino itu untuk melakukan kajian terhadap dampak kecanduan ponsel terutama pada kondisi mental anak.

Dilansir dari Bloomberg,Senin (8/1), surat yang dilayangkan kedua investor ini memaparkan bukti jumlah pengguna muda yang mengalami kecanduan ponsel pintar.
“Mulai berkembang jumlah korban dari kecanduan ponsel, dan kebanyakan dari mereka adalah pengguna muda. Mereka mungkin mengalami dampak buruk yang tak diinginkan," demikian isi surat kedua investor kepada Apple tertanggal 6 Januari 2018.


Para investor menjelaskan apabila masalah tersebut diatas dari sekarang maka dapat meningkatkan nilai jangka panjang bagi semua pemegang saham. Sayangnya, juru bicara Apple menolak untuk memberikan komentar mengenai surat dari dua investor tersebut.

Namun, Apple sebenarnya telah memberikan kontrol pada orang tua melalui fitur Ask to Buy ketika anak ingin membeli produk atau jasa. Pembatasan yang serupa pun bisa diimplementasikan pada aplikasi, konten dan penggunaan data.
Masalah kontrol terhadap pengguna muda memang menjadi masalah yang dihadapi oleh sebagian besar perusahaan teknologi, terutama ketika produk tersebut disukai anak-anak. Namun, sejak ponsel pintar mudah ditemukan di mana-mana, pemerintah dan pemimpin perusahaan di Silicon Valley berupaya untuk membatasi kecanduan penggunaan.

Beberapa negara mulai membatasi penggunaan ponsel di sekolah menengah pertama dan atas. Contohnya Perancis dan sebagian wilayah di Indonesia.

Adapun, desakan dari dua pemegang saham tersebut bukan masalah yang dialami Apple belakangan ini. Perusahaan yang dibangun Steve Jobs tersebut harus menghadapi kerentanan keamanan pada perangkatnya karena kecacatan chipset yang dibuat Intel Corp.
Sebelumnya, Apple juga harus meminta maaf karena telah memperlambat kinerja ponsel lama dari pembaruan software untuk membuat baterai bertahan lebih lama. Perusahaan kemudian menjanjikan akan memberikan transparansi kinerja ponsel dan memutuskan memberikan diskon baterai demi kepuasan pelanggan. (age/age)