Banyak pengamat amatir yang mungkin akan kecewa ketika melihat supermoon karena mereka tak melihat banyak perbedaan dari bulan purnama biasanya.
Ada tiga kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan fase supermoon, yaitu berada di titik terdekat ke bumi (perigee), intensitas cahaya, dan dari segi ukuran objek. Tapi ketiga kriteria ini dianggap kurang relevan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini terbukti dari fenomena Supermoon yang muncul pada 3 Desember 2017 lalu dan kembali hadir sebulan setelahnya dalam dua fase di dua waktu berbeda, yaitu pada tanggal 2 Januari dan 30 serta 31 Januari 2018.
Dari segi ukuran objek, Supermoon diklaim berukuran lebih besar dari biasanya. Bahkan, Supermoon dalam fase pertama di awal tahun 2018 ini disebut sebagai bulan purnama terbesar di tahun 2018 dan menghasilkan perbedaan ukuran sebesar 7,3 persen jika dibandingkan dengan posisi bulan pada jarak rata-ratanya dari Bumi.
Ukuran lain yang sering dijadikan karakteristik untuk menilai Supermoon adalah tingkat cahaya bulan yang naik 30 persen dibanding bulan purnama normal.
Tapi jika diterjemahkan, peningkatan level kecerahannya hanya naik 0,1 atau 0,2. Perbedaan yang sulit ditangkap oleh mata manusia.
Lihat juga:Waspada Banjir Rob Saat Supermoon |
Di Indonesia, fenomena Supermoon yang hadir pada 30 dan 31 Januari 2018 akan menarik banyak perhatian karena kemunculannya akan diikuti oleh gerhana bulan total yang diperkirakan akan hadir dari awal malam hingga tengah malam.
Gerhana total yang dapat dilihat dari seluruh Indonesia ini akan berlangsung selama satu jam 16 menit dan menghasilkan Bulan yang berwarna merah.
(eks/sat)