NASA Pastikan Kembali Kirim Misi Berawak ke Bulan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 11:06 WIB
NASA Pastikan Kembali Kirim Misi Berawak ke Bulan NASA akan kembali akan kembali mengirim misi berawak ke bulan. (dok. REUTERS/James Lawler Duggan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan diri akan kembali menjalankan misi berawak ke bulan. Hal itu dipastikan setelah anggaran yang disahkan pemerintah AS sehingga memungkinkan mereka melakukan hal tersebut.

Dalam anggaran dana terbaru pemerintah AS, NASA bakal menerima sekitar US$19,9 miliar untuk 2019. Pemerintahan Donald Trump menekankan secara khusus agar NASA lebih berfokus ke eksplorasi Bulan dan Mars dalam waktu panjang.

NASA sebelumnya secara gamblang menyatakan niat mengirim astronaut kembali ke Bulan. Namun skalanya kali ini berbeda ketimbang eksplorasi Bulan di era Apollo.


Pada era Perang Dingin, AS dan Rusia berkompetisi mengirim manusia ke Bulan. Era itu menjadi momen tersibuk bagi kedua negara adidaya dalam penjelajahan antariksa. NASA setidaknya mengirim enam misi dalam kurun Juli 1969 - Desember 1972 yang mengantarkan astronaut menginjakkan kakinya di Bulan. Setelah periode itu, NASA hanya mengirim wahana tak berawak.

Mereka berniat membangun habitat kru berawak di sana guna menyelidiki potensi mineral di permukaan Bulan.

"Kami akan membangun infrastruktur luar angkasa dalam eksplorasi jangka panjang dengan meluncurkan wahana untuk mengorbit Bulan sebagai Gerbang Orbit Bulan," kata Robert Lightfoot, pelaksana tugas kepala NASA.

Lightfoot berjanji pada 2030 nanti NASA sanggup mengambil sampel permukaan Mars dan meneliti kandungannya selagi pencarian mineral berharga di Bulan berlanjut.

Selain itu, ia juga menjanjikan terobosan baru akan datang dari lembaganya seperti drone yang terhubung ke jaringan transportasi massal, dengan kata lain mobil terbang.

"Mobilitas udara perkotaan akan jadi transportasi yang lazim ditemukan nantinya - kalian akan melihat mobil Jetson," ujar Lightfoot seperti yang dilaporkan situs resmi NASA.

Menurut laporan The New York Times, anggaran baru NASA itu akan berdampak cukup signifikan untuk penelitian luar angkasa secara keseluruhan. Sebab selain eksplorasi Bulan dan Mars, pemerintahan Trump mencabut dukungan ke beberapa bidang penelitian, salah satunya adalah perubahan iklim.

Pos anggaran pendidikan antariksa ke anak-anak dibuang. Proyek teleskop infra merah batal. Terakhir, dukungan dana untuk stasiun luar angkasa (International Space Station/ISS) juga bakal diakhiri pada 2025 nanti.

Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa pemeritahan Trump tidak percaya akan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal itu tak menyulitkan mereka membatalkan lima misi NASA khusus soal iklim.

Dalam kasus Wide Field Infrared Survey Telescope (WFIRST), ini jadi kegagalan umat manusia memiliki teleskop antariksa yang bisa melihat langit 100 kali lebih kuat dari teleskop Hubble yang mahsyur itu. 

Sementara untuk ISS, Trump sedianya ingin memprivatisasi pengelolaan stasiun tersebut. Rencana itu sulit direalisasi lantaran kepemilikan ISS tidak di tangan AS saja, namun berbagi dengan Eropa, Jepang, Rusia, dan Kanada. Namun AS punya kontribusi paling besar dibandingkan negara lain. (evn)