Kios Tradisional Masih Dominasi Penjualan Pulsa

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 08:00 WIB
Kios Tradisional Masih Dominasi Penjualan Pulsa Ilustrasi smartphone (AFP PHOTO / ROSLAN RAHMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai layanan e-commerce mulai dari Tokopedia, Bukalapak hingga Gojek telah menyediakan pembelian pulsa di dalam platform mereka. Pembelian pulsa pun bisa dilakukan lewat gerai ritel dan perbankan.

Namun, menurut CEO PT Narindo Solusi Komunikasi, Bernard Martian, penjual tradisional lewat gerai pulsa dan toko kelontong masih mendominasi penjualan di angka 80 persen.

"Jadi tetap traditional market itu menyumbang terbesar," tuturnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com usai peresmian kerjasama dengan PT POS di Jakarta Pusat, Selasa (13/2).

PT Narindo Solusi Komunikasi sendiri adalah perusahaan perusahaan penyedia voucher elektronik dan layanan digital lainnya. Narindo juga mengklaim mereka memberikan saluran pembelian pulsa kepada beberapa e-commerce tanah air.


Sementara sumbangan penjualan pulsa lewat layanan e-commerce disebut Bernard baru menyumbang penjualan satu persen untuk pemasukan pulsa operator maupun Narindo.

"Kalau di e-commerce itu baru satu persen [kontribusinya] di semua operator. Kontribusinya masih sangat kecil sebenarnya," ungkapnya.

Menurutnya ketimbang e-commerce, distribusi pembelian pulsa yang lebih besar saat ini masih melalui perbankan, modern retail, modern channel.

"Modern channel itu kayak bank, ATM, mobile banking. Modern retail seperti Indomaret atau Alfamart. Itu lebih besar daripada e-commerce," kata dia.


Kuantitas pembelian

Bernard pun memaparkan mengapa pasar tradisional menyumbang keuntungan paling banyak. Alasan kuantitas pembelian dan denominasi jenis pulsa yang dibeli menjadi latar mengapa gerai tradisional bisa mendatangkan keuntungan lebih besar. 

"Denom yang paling laku itu 5 ribu dan 10 ribu jadi profit tertinggi di denom itu. Nah e-commerce itu tidak boleh menjual 5 ribu dan 10 ribu, minimal mereka 25 ribu. Profitnya udah ditakarlah sama operator profitnya sekian," tambahnya.

Denominasi pulsa Rp5-10 ribu ini disebut Bernard bisa kuantitas pembelian yang besar, sehingga keuntungannya pun lebih besar. Sementara, denominasi diatas Rp5-10 ribu di e-commerce menurut Bernard menyumbang profit yang lebih kecil karena margin dihitung per pembelian.

"Nah 5 ribu dan 10 ribu itu yang membuat profit untuk dealer pulsa seperti Narindo. Kalau yang 5 ribu dan 10 ribu anggaplah marginnya 1 persen gitu ya, tapi kuantitasnya bisa jadi Rp10 miliar. Dibanding denom 25 ribu sampai 100 ribu itu (hanya) Rp2 miliar, tetapi keuntungannya lebih besar dari market tradisional," papar Bernard. (eks/eks)