Pendapatan Uber Naik, Tapi Tetap Merugi

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 14/02/2018 21:41 WIB
Pendapatan Uber Naik, Tapi Tetap Merugi Uber bukukan keuntungan lebih besar, namun tetap catatkan kerugian (REUTERS/Shannon Stapleton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah banyaknya isu negatif yang menerpa Uber, platform transportasi online asal Amerika ini boleh bernafas lega. Pasalnya, Uber berhasil menekan angka kerugian mereka pada kuartal empat kemarin.

Kerugian mereka turun menjadi US$1,1 miliar (Rp15 triliun) dari sebelumnya US$1,46 miliar (Rp19,9 triliun). Sementara itu, pendapatan perkuartal mereka naik menjadi US$2,2 miliar (Rp27,2 triliun). Angka ini naik 11,8 persen dari kuartal sebelumnya dan naik 61 persen dibanding 2016.

Soal urusan permodalan, Uber telah mengumpulkan pendanaan baru lebih dari US$14 miliar (Rp190,9 triliun). Awal tahun ini, bari saja mendapat pendanaan dari SoftBank, perusahaan pemodal ventura milik konglomerat Jepang. Pendanaan ini membuat SoftBank memiliki 17,5 persen saham Uber.


Sementara itu total pendapatan kotor Uber dari pemesanan layanannya perkuartal naik 14 persen menjadi US$11,1 miliar (Rp151,4 triliun) pada Q3 2017, yang diikuti US$9,7 miliar atau Rp132,2 triliun pada kuartal sebelumnya.

Serangkaian skandal sempat menimpa perusahaan yang berkantor di California, Amerika itu, mulai dari diskriminasi seks oleh mantan insinyur Uber Susan Fowler hingga pimpinan eksekutif Travis Kalanick yang hengkang dari perusahaan.

Sementara di Asia Tenggara, bisnis Uber yang tidak berkembang kabarnya membuat pihak perusahaan berniat keluar dari kompetisi.

Pihak perusahaan juga mulai berbenah untuk menyelesaikan masalah yang ada, salah satunya dengan merogoh uang senilai US$245 juta atau setara Rp3,3 triliun untuk menyelesaikan sengketa hukumnya dengan Waymo, perusahaan mobil cerdas milik Google dalam kasus rahasisa dagang, seperti diberitakan Business Insider pada Rabu (14/2). (sat/eks)