Hyundai dan Kia 'Dihantui' Perang Dagang Trump

CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 13:58 WIB
Hyundai dan Kia 'Dihantui' Perang Dagang Trump Trump teken pengenaan pajak impor baja 25 persen dan aluminium sebesar 10 persen. (AFP PHOTO / JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia -- Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai dan Kia dikabarkan terkena imbas peningkatan pajak impor baja 25 persen dan aluminium sebesar 10 persen oleh Pemerintah Amerika Serikat. Pengenaan tarif bea masuk baru oleh AS untuk dua bahan baku itu berakibat pada meningkatnya biaya produksi mobil.

Seorang pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan kebijakan pemerintah AS itu menciptakan kondisi tidak menguntungan bagi Hyundai dan Kia yang memiliki fasilitas produksi di AS.

"Tarif yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya produksi Hyundai dan Kia, menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan pesaing mereka di Amerika Serikat," kata pejabat Kementerian Perdagangan Korea Selatan kepada Reuters, pada Jumat (9/3).


Kenaikan tarif untuk impor baja dan aluminium ke AS secara langsung memengaruhi dua perusahaan tersebut, sebab dua bahan baku itu adalah bahan utama dalam pembuatan mobil. Hingga saat ini belum satu pun pihak Hyundai dan Kia yang mengomentari 'tekanan' ini.

Satu sisi, negeri paman sam Amerika Serikat salah satu pasar penting bagi Hyundai dan Kia. Sejumlah pihak memprediksi ancaman ini setidaknya akan membuat perusahaan otomotif menaikkan harga jual kendaraan untuk konsumennya di AS.

Untuk diketahui, ini bukan kali pertama dua perusahaan asal negeri ginseng itu 'tertekan' efek kebijakan Presiden Trump. Awal tahun lalu, Hyundai dan Kia sepakat untuk melakukan investasi di Amerika Serikat sebesar Rp41 miliar setelah Presiden AS Trump mengancam untuk menaikkan 35 persen pajak bagi kendaraan impor.

Selanjutnya dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi pabrik Hyundai di Montgomery, Alabama. Sementara Kia memperluas pabrik di West Point yang memproduksi Optima dan Sorento.

Sementara industri pendukung otomotif ban asal Jerman, Continental juga menyampaikan kekhawatiran tentang kemungkinan perang dagang yang diluncurkan pemerintah AS. Menurut kepala keuangan Continental Wolfgang Schaefer kondisi ini akan merugikan sejumlah industri di AS yang mengandalkan bahan baku baja dan aluminium.

Continental sendiri tidak terkena dampak dari kebijakan bea masuk baru untuk material baja dan aluminium, namun Schaefer menjelaskan perusahaanya akan mengalami kerugian jika industri otomotif AS terpukul akibat kebijakan tersebut. (mik/mik)