Dell Sebut Konektivitas jadi Tantangan Penyedia 'Cloud'
Kustin Ayuwuragil | CNN Indonesia
Rabu, 21 Mar 2018 07:31 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Managing Director Dell EMC Indonesia Catherine Lian mengungkapkan konektivitas jadi tantangan terbesar bagi perusahaan penyedia penyimpanan awan (cloud).
Menurutnya, akses internet yang belum merata di seluruh Indonesia membuat layanan cloud belum bisa tumbuh pesat. Hal itu juga menjadi alasan perusahaan lebih memilih menghadirkan cloud hybrid.
"Karena penetrasi itu menjadi tantangan. Kebanyaan perusahaan yang ingin mengambil kesempatan berinvestasi di bisnis data center mengalami kesulitan ini. Adopsinya masih menjadi tantangan. Oleh karena itu kami beri pilihan hybrid," jelasnya disela diskusi media di kantor Dell di jakarta, Selasa (20/3).
Padahal, akses internet jadi 'nyawa' bagi perusahaan penyedia penyimpanan awan untuk publik. Sementara jika semuanya bersifat privat, maka harga yang ditanggung perusahaan bisa lebih tinggi.
"Mengurus infrastruktur dan menyiapkan tenaga kerja untuk merawat sistemnya membuat biaya yang ditanggung perusahaan jadi lebih tinggi," ucap Catherine.
Persaingan bisnis dengan Amazon dan Alibaba
Terkait menghadapi persaingan bisnis dengan Alibaba dan Amazon yang baru saja menyambangi Indonesia, Dell mengaku pihaknya memiliki perbedaan. Menurutnya, Dell memiliki bisnis solusi end-to-end mulai dari hardware, software hingga jaringan yang diklaim tak dimiliki kompetitor.
Tiang Beng Ng selaku Senior Vice President & General Manager, Channels, Asia Pacific & Japan, Dell EMC, menambahkan bahwa perusahaan menyediakan cloud hybrid. Berbeda dari Amazon maupun Alibaba yang menyediakan public cloud saja.
"Kini banyak perusahaan membutuhkan public cloud seperti Alibaba dan Amazon itu kami sebut public cloud. Tapi perusahaan juga butuh menyimpan di private cloud. Jadi kami percaya bahwa kebanyakan perusahaan akan butuh keduanya," kata Tiang dalam kesempatan yang sama.
Dia melanjutkan bahwa kebanyakan perusahaan tidak akan menyimpan semua datanya di public cloud. Karena 80 persen aktivitas digital yang berbasis cloud sudah bisa diprediksi oleh tim IT perusahaan sehingga tidak membutuhkan public cloud. Hanya saja, 20 persen sisanya kadang tak terprediksi dan perlu diletakkan di public cloud.
"Public cloud itu hanya dibutuhkan kalau misalnya saat traffic melonjak sangat besar. Saat Harbolnas, SNMPTN atau waktunya bayar pajak di Maret ini kan banyak sekali orang yang mengakses, nah itu tidak boleh down servernya. Jika tidak, perusahaan tidak perlu kapasitas yang terlalu besar kan," tambah Elizabeth Pabunag, Corporate Communication Dell Indonesia. (evn)
Menurutnya, akses internet yang belum merata di seluruh Indonesia membuat layanan cloud belum bisa tumbuh pesat. Hal itu juga menjadi alasan perusahaan lebih memilih menghadirkan cloud hybrid.
"Karena penetrasi itu menjadi tantangan. Kebanyaan perusahaan yang ingin mengambil kesempatan berinvestasi di bisnis data center mengalami kesulitan ini. Adopsinya masih menjadi tantangan. Oleh karena itu kami beri pilihan hybrid," jelasnya disela diskusi media di kantor Dell di jakarta, Selasa (20/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengurus infrastruktur dan menyiapkan tenaga kerja untuk merawat sistemnya membuat biaya yang ditanggung perusahaan jadi lebih tinggi," ucap Catherine.
Terkait menghadapi persaingan bisnis dengan Alibaba dan Amazon yang baru saja menyambangi Indonesia, Dell mengaku pihaknya memiliki perbedaan. Menurutnya, Dell memiliki bisnis solusi end-to-end mulai dari hardware, software hingga jaringan yang diklaim tak dimiliki kompetitor.
Tiang Beng Ng selaku Senior Vice President & General Manager, Channels, Asia Pacific & Japan, Dell EMC, menambahkan bahwa perusahaan menyediakan cloud hybrid. Berbeda dari Amazon maupun Alibaba yang menyediakan public cloud saja.
Dia melanjutkan bahwa kebanyakan perusahaan tidak akan menyimpan semua datanya di public cloud. Karena 80 persen aktivitas digital yang berbasis cloud sudah bisa diprediksi oleh tim IT perusahaan sehingga tidak membutuhkan public cloud. Hanya saja, 20 persen sisanya kadang tak terprediksi dan perlu diletakkan di public cloud.
"Public cloud itu hanya dibutuhkan kalau misalnya saat traffic melonjak sangat besar. Saat Harbolnas, SNMPTN atau waktunya bayar pajak di Maret ini kan banyak sekali orang yang mengakses, nah itu tidak boleh down servernya. Jika tidak, perusahaan tidak perlu kapasitas yang terlalu besar kan," tambah Elizabeth Pabunag, Corporate Communication Dell Indonesia. (evn)