Menguak Fakta Telur Berdiri Saat Hari Tanpa Bayangan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 21/03/2018 16:43 WIB
Menguak Fakta Telur Berdiri Saat Hari Tanpa Bayangan Menguak mitos menyeimbangkan telur di Hari Tanpa Bayangan (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menegakkan telur adalah hal lumrah dalam merayakan posisi Matahari yang tepat berada di atas ekuator atau biasa disebut sebagai fenomena ekuinoks. Warga Pontianak, Kalimantan Barat, terbiasa melakukan hal itu.

Namun benarkah fenomena ekuinoks mempengaruhi tarikan gravitasi sehingga telur lebih mudah didirikan? Sejumlah pembuktian ilmiah menjawab itu semua sebagai mitos belaka.

Keterlibatan telur ketika terjadi fenomena alam sudah jadi bagian dari masyarakat sejak lama. Masyarakat China, tepatnya di Chungking, bekas ibukota sementara China, masyarakatnya menyambut datangnya musim semi dengan mendirikan telur, seperti dikutip Snopes.


Saking ramainya perayaan itu, Annalee Jacoby, koresponden dari majalah LIFE, pernah menulis khusus perayaan itu pada edisi 19 Maret 1945.

Perayaan itu pun sampai di telinga masyarakat Amerika Serikat dan tak lama kemudian warga Paman Sam itu ikut latah, mendirikan telur ketika musim semi datang pada 20 atau 21 Maret.

Diragukan

Tanggapan dari dunia sains saat itu cenderung skeptis. Dalam tulisan Jacoby tadi, Albert Einstein disebut sempat mendengar ramai-ramai soal telur itu. Namun Einstein ragu kebenarannya.

Keraguan itu pula yang menyebabkan peneliti lain menyelidiki kebenaran telur berdiri ketika ada ekuinoks. Frank D. Ghigo yang sejatinya adalah astronom sempat melakukan pembuktian. Dari eksperimennya, Ghigo menyimpulkan telur bisa didirikan kapan saja, tak peduli ada ekuinoks atau tidak.

"Hasilnya, sejauh yang saya tahu, tidak begitu banyak hubungan antara fenomena astronomi dan telur yang bisa berdiri. Ini sekadar fungsi dari bentuk telur dan permukaannya," kata Ghigo seperti yang dilaporkan oleh Associated Press pada 1987 silam. 

Ghigo lalu berpendapat bahwa keberhasilan mendirikan sebuah telur ditentukan dari usaha dan suasana hati seseorang. Selama eksperimen yang ia lakukan, Ghigo meyakini semakin gugup atau tergesa seseorang, sangat sulit untuk mendirikan telur.

"Saya rasa saya jadi lebih jago berkat latihan terus-menerus."

Eksperimen Ghigo memakai empat sampel berisi selusin telur yang berlansung mulai 27 Februari hingga 3 April 1984, termasuk fenomena ekuinoks yang jatuh pada 20 Maret 1984.

Sekelompok pelajar di Mancelona Middle School, Michigan, AS, pernah melakukan eksperimen serupa dengan telur pada 16 Oktober 1999. Lisa Vincent, seperti dikutip dari Business Insider, memamerkan keberhasilan mereka mendirikan telur tanpa "bantuan" ekuinoks.

Hebatnya lagi, Vincent dan muridnya berhasil mendirikan telur di ujungnya yang lebih lancip dan tetap berdiri hingga lebih dari sebulan lamanya.

Tak ada korelasi

Rhorom Priyatikanto, peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), sepakat bahwa tak ada korelasi antara fenomena ekuinoks dengan telur yang bisa didirikan dengan mudah. Menurutnya apa yang diyakini masyarakat sekadar mitos belaka.

"Saya kira sih mendirikan telur bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja," tukas Rhorom, saat dihubungi  CNNIndonesia.com via pesan teks, Rabu (21/3). 

Meski demikian, Rhorom menyebut bahwa hal ini hanya sebatas pemikirannya dan belum dibuktikan secara ilmiah.

"Saya tadi bisa dirikan telur di khatulistiwa saat puncak/kulminasi. Saya belum coba di tempat lain...Tadi ada juga yg gagal mendirikan telur meski sudah di khatulistiwa dan saat kulminasi matahari," tambahnya. (eks/eks)