Meski demikian, gelar pemenang utama disabet oleh tim Pine dari Malaysia, disusul oleh tim BeeConnex dari Thailand, dan tim 7x dari Singapura.
Tim Pine memberikan solusi untuk mengetahui tingkat kematangan dan manisnya nanas yang terhubung dengan perangkat IoT. Nanas merupakan komoditas buah ekspor kedua terbesar Malaysia. Metode konvensional untuk mengetes kematangan nanas dianggap tidak efektif karena banyak buah yang terbuang dalam pengetesannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mimpi Beehive Drone Jadi 'Grab' Petani |
Sementara tim 7x memberikan solusi ProCubeX. Solusi ini digunakan untuk membantu anak penderita disleksia.
Tim Beehives jadi salah satu finalis yang melangkah ke kejuaraan tingkat dunia. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto) |
Persiapan lebih baik
"Kemarin kan banyak masukan soal finance, nanti kita masukin dan kita pertimbangkan juga semua masukan dari juri," tutur Anindita Pradana Suteja, salah satu anggota tim Beehive.
"Di Seattle juga mesti bikin booth, jadi juri bisa merasakah langsung juga. Tapi kalo drone kan agak susah untuk mencoba langsung karena tempat terbatas," tambahnya.
Bersama dengan Beehives, ada tiga finalis dunia lain yaitu tim Sochware dari Nepal, tim Classum dan tim En#22,45km dari Korea Selatan. Namun tim Taleus yang juga maju ke babak final di Kuala Lumpur, Malaysia, tak berhasil masuk sebagai finalis tujuh besar di Asia Pasifik.
Di babak final dunia di Seattle, Amerika Serikat, pemenang akan mendapat US$85 ribu dan pemenang kedua akan mendapat US$15 ribu. (evn)
Tim Beehives jadi salah satu finalis yang melangkah ke kejuaraan tingkat dunia. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)