Samsung dan TSMC Saingan Produksi Prosesor Anyar Qualcomm
Eka Santhika | CNN Indonesia
Selasa, 10 Apr 2018 10:47 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Samsung telah menyelesaikan pengembangan chipset berteknologi 7 nanometer (nm). Pengembangan chipset berteknologi 7nm ini enam bulan lebih cepat dari jadwal.
Rencananya chipset dengan transistor berukuran 7nm ini akan digunakan untuk lini Snapdragon teranyar milik Qualcomm, Snapdragon 855 yang diperkirakan akan meluncur pada akhir 2018.
Produksi chipset unggulan Qualcomm saat ini, Snapdragon 845, masih menggunakan teknologi 10 nm. Prosesor berteknologi 7nm ini berukuran 40 persen lebih kecil dari prosesor 10nm. Makin kecilnya teknologi prosesor yang digunakan, bertujuan untuk meningkatkan masa pakai baterai.
"Dengan prosesor 7nanometer, manufaktur ponsel pintar dapat memasang kapasitas baterai yang besar atau dapat membuat desainnya lebih langsing," ujar otoritas Samsung Electronics seperti dikutip Sedaily.
Disebutkan GizmoChina, Samsung mempercepat proses pengembangannya untuk memenangkan kompetisi melawan TMSC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company). Sebab keduanya tengah bersaing memenangkan pinangan Qualcomm untuk memproduksi Snapdragon 855 tersebut. TMSC sendiri adalah pengembang chipset asal Taiwan.
Kedekatan Samsung dengan Qualcomm
Sebelumnya, Samsung selalu berhasil mendapat pesanan untuk membangun chipset-chipset paling canggih Qualcomm. Karenanya, dalam beberapa lini produksi teranyarnya, Samsung selalu jadi yang pertama mengadopsi chipset highend Qualcomm.
Sebagai contoh, Snapdragon 845 Qualcomm pertama kali digunakan untuk lini Galaxy S9 dan S9+ milik Samsung. Samsung juga memproduksi Snapdragon 835 yang akhirnya digunakan pertama kali untuk jajaran Galaxy S8 miliknya.
Sempat beredar rumor bahwa Qualcomm akan menggandeng TSMC untuk produksi chipset 7nm, seperti diberitakan Nikkei Asian Review. Sebab, saat itu Samsung belum mengumumkan penyelesaian pengembangan chipset 7nm.
TSMC sendiri sebelumnya dikenal sebagai pemasok chipset Bionic yang digunakan Apple dan chipset Kirin yang digunakan Huawei.
Satuan nm yang digunakan pada teknologi chipset ini ditujukan pada tebal lapisan positif dan negatif yang digunakan untuk membangun transistor di dalam chipset.
Semakin kecil ukurannya, makin sulit dan mahal proses pembuatannya. Makin kecil lapisan teknologi yang digunakan, makin banyak transistor yang bisa muat dalam tiap milimeter chipset yang dibuat. Dengan demikian, chipset yang dibuat akan makin gegas lantaran memuat lebih banyak transistor untuk memproses data. (btg)
Rencananya chipset dengan transistor berukuran 7nm ini akan digunakan untuk lini Snapdragon teranyar milik Qualcomm, Snapdragon 855 yang diperkirakan akan meluncur pada akhir 2018.
Produksi chipset unggulan Qualcomm saat ini, Snapdragon 845, masih menggunakan teknologi 10 nm. Prosesor berteknologi 7nm ini berukuran 40 persen lebih kecil dari prosesor 10nm. Makin kecilnya teknologi prosesor yang digunakan, bertujuan untuk meningkatkan masa pakai baterai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan GizmoChina, Samsung mempercepat proses pengembangannya untuk memenangkan kompetisi melawan TMSC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company). Sebab keduanya tengah bersaing memenangkan pinangan Qualcomm untuk memproduksi Snapdragon 855 tersebut. TMSC sendiri adalah pengembang chipset asal Taiwan.
Sebelumnya, Samsung selalu berhasil mendapat pesanan untuk membangun chipset-chipset paling canggih Qualcomm. Karenanya, dalam beberapa lini produksi teranyarnya, Samsung selalu jadi yang pertama mengadopsi chipset highend Qualcomm.
Sebagai contoh, Snapdragon 845 Qualcomm pertama kali digunakan untuk lini Galaxy S9 dan S9+ milik Samsung. Samsung juga memproduksi Snapdragon 835 yang akhirnya digunakan pertama kali untuk jajaran Galaxy S8 miliknya.
TSMC sendiri sebelumnya dikenal sebagai pemasok chipset Bionic yang digunakan Apple dan chipset Kirin yang digunakan Huawei.
Satuan nm yang digunakan pada teknologi chipset ini ditujukan pada tebal lapisan positif dan negatif yang digunakan untuk membangun transistor di dalam chipset.
Semakin kecil ukurannya, makin sulit dan mahal proses pembuatannya. Makin kecil lapisan teknologi yang digunakan, makin banyak transistor yang bisa muat dalam tiap milimeter chipset yang dibuat. Dengan demikian, chipset yang dibuat akan makin gegas lantaran memuat lebih banyak transistor untuk memproses data. (btg)