Radianta Trimadja, profesor teknik sipil asal Universitas Gadjah Mada meyakini potensi tsunami dengan ketinggian 50 meter lebih benar-benar ada. Menurut Radianta, contoh yang paling dekat adalah tsunami di Aceh pada 2004 silam.
Ucapan Radianta merujuk pada data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang memperlihatkan riwayat tsunami di Indonesia sejak tahun 1600 hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data dari NOAA tersebut juga menunjukkan ada 17 tsunami yang menghantam Indonesia dalam kurun 25 tahun terakhir. Itu artinya setiap dua tahun setidaknya ada satu tsunami. Namun, statistik mencatat tsunami berketinggian lebih dari 50 meter tidak pernah melanda wilayah Jawa-Bali sejak tahun 1000.
Widjo dalam forum yang sama menjelaskan sejatinya permodelan yang ia lakukan itu masih perlu pendalaman tambahan. Namun Radianta meyakini suatu permodelan seperti yang dibuat Widjo bisa dipakai sebagai acuan mitigasi bencana tsunami, terlebih sejarah mencatat tsunami lebih dari 50 meter sudah pernah terjadi di Indonesia sebelumnya.
"Ketika suatu model sudah terbentuk, 95 persen akan terbukti benar. Saya sangat yakin dengan permodelan yang dibuat Pak Widjo karena sudah jelas sekali," imbuh Radianta.
Posisi Kabupaten Pandeglang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi barat dan selatan. Bentuk wilayahnya yang menjorok ke arah samudera diperhitungkan berisiko paling besar ketika terjadi gempa dan tsunami yang bersumber di segmen Enggano, Selat Sunda, dan Jawa Barat-Tengah.
Widjo menekankan kajian ilmiahnya bertujuan mengidentifikasi potensi bencana, khususnya tsunami. Sehingga pemerintah dan pemangku kepentingan lain dapat mengambil strategi mitigasi yang tepat sebagai antisipasi potensi tersebut. (age)