Penduduk suku ini bisa menyelam hingga kedalaman 70 meter tanpa alat bantu pernapasan apa pun. Mereka hanya berbekal sebuah topeng kayu.
Dengan peralatan sederhana ini, mereka bisa menyelam selama 13 menit. Selain itu, mereka menghabiskan 60 persen waktu mereka dalam sehari dengan menyelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tertarik dengan kebiasaan mereka ini, calon doktoral di Universitas Copenhagen, Melissa Iladro lantas melakukan penelitian. Peneliti asal Amerika Serikat ini ternyata menemukan bahwa warga suku Bajau ini ternyata secara genetis telah beradaptasi. Hal ini yang menyebabkan mereka bisa menyelam lebih lama dari kebanyakan manusia pada umumnya.
Limpa memiliki peran penting saat menyelam, sebab tubuh mesti melepaskan lebih banyak oksigen dalam darah ketika tubuh sedang mengalami tekanan air atau ketika seseorang sedang menahan napas di bawah air.
Limpa atau hati orang Bajau jauh lebih besar baik mereka yang sering menyelam maupun yang tidak. Analisa terhadap DNA orang Bajau menemukan gen khusus yang disebut PDE10A.
Lihat juga:Perayaan Unik Hari Tanpa Bayangan di Dunia |
"Orang Bajau dan para Pengembara Laut lainnya sangat luar biasa dan saya ingin dapat membuktikan hal itu kepada dunia," kata Ilardo yang kini adalah seorang sarjana pascasarjana di Institut Kesehatan Nasional AS di departemen Kedokteran Molekuler di Universitas Utah. (afp)