Usai Registrasi SIM, Operator Diminta Fokus Perbaiki Layanan

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Kamis, 03/05/2018 16:42 WIB
Usai Registrasi SIM, Operator Diminta Fokus Perbaiki Layanan Operator seluler diminta fokus memperbaiki kualitas layanan usai [rpses registrasi prabayar. (Foto: ThinkStock/tongwongboot)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai kebijakan registrasi ulang seluler prabayar yang baru selesai lebih banyak membawa dampak positif. Salah satunya adalah mengubah paradigma model bisnis operator seluler.

Kepala Bidang Kebijakan Strategis Mastel Teguh Prasetya melihat akan ada pergeseran operator seluler dalam mengeruk keuntungan setelah kebijakan registrasi ulang. Berkat kebijakan itu, Teguh berpendapat, pelaku industri tak akan lagi bersaing dalam jumlah pelanggan.

"Karena mereka enggak lagi kejar-kejar jumlah pelanggan. Dari hitungan investor pun sudah enggak layak lagi ngejar jumlah pelanggan, yang ada justru kejar ARPU (average revenue per user) pelanggan," ucap Teguh yang dihubungi melalui telepon, Kamis (3/5).


Ketika registrasi ulang prabayar dimulai oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 31 Oktober 2017, muncul kekhawatiran keuntungan operator yang umumnya masih mengandalkan penjualan kartu perdana akan tergerus. Potensi itu dinilai akan memangkas pertumbuhan jumlah pelanggan mereka.

Teguh sangsi akan perkiraan tersebut. Menurutnya impresi jumlah pelanggan yang turun tak berdampak pada pendapatan yang bisa mereka kantongi. Justru menurutnya, menyusutnya jumlah pelanggan membawa potensi pendapatan lain.

"Permintaan akan mobile data masih tinggi. Kita juga melihat pengguna seluler yang menjadi pelanggan internet masih kurang, itu jadi potensi baru. Oleh sebab itu penjualan paket data dan internet masih bisa tumbuh lebih baik."

Teguh mencatat pergeseran model bisnis tersebut mulai terlihat ketika operator mulai menawarkan berbagai keuntungan di setiap isi ulang pulsa. Setidaknya seperti yang ia amati di Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata.

Ridwan Effendi dari Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi ITB (Pikerti ITB) punya pandangan serupa. Gelontoran uang yang sebelumnya dihamburkan oleh operator untuk kartu perdana dan promosi bisa dialihkan untuk perbaikan layanan.

"Sekarang harus move on, operator harus mulai berpacu di layanan," ujar Ridwan yang menjabat posisi sekretaris jenderal di Pikerti ITB.

Ia memaklumi kekhwatiran akan merugi dari operator seluler yang mengandalkan portofolio. Namun ia percaya pada akhirnya mereka tidak akan terpengaruh. Pasalnya, selain tidak perlu banyak keluar dana untuk produksi kartu SIM, operator bisa fokus mengembangkan jaringan.

"Makanya investasi harus di jaringan, biaya yang kemarin habis di promosi sekarang pindahkan dari opex menjadi capex," imbuh Ridwan. (evn)