Upaya Facebook Tekan Laju Hoaks

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 15:45 WIB
Upaya Facebook Tekan Laju Hoaks Facebook mengerahkan sejumlah upaya untuk menekan laju peredaran informasi hoaks. (Foto: CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Skandal pencurian 87 juta data pengguna Facebook yang melibatkan konsultan asal Inggris, Cambridge Analytica memicu kekhawatiran penggunanya. Isu keamanan data mencuat seiring dengan perhatian sejumlah negara yang meminta keterangan rinci Facebook soal skandal tersebut.

Facebook kini mulai berbenah demi menghindarkan diri dari kesalahan yang membuat CA menggunakan data pengguna untuk memenangkan Donald Trump saat Pemilu 2016 lalu.

Sejumlah fitur dibuat untuk menekan lajur konten hoaks yang bisa memicu propaganda. Mengandalkan machine learning dan teknologi kecerdasan buatan (AI), Facebook mengklaim bisa menekan laju hoaks di platform mereka.


CEO Mark Zuckerberg mengklaim sejumlah fitur penyaring konten hoaks mampu menekan 80 persen distribusi hoaks di jejaring sosial buatannya.

Pengguna sejak lama bisa menandai konten atau berita hoaks sehingga akan ada di linimasa paling bawah pengguna. Harapannya, konten tersebut jadi semakin jarang terdistribusi.

Alice Budisartijo, News Partnership Lead Facebook Indonesia menjelaskan pihaknya menempuh tiga cara untuk memastikan platform-nya aman dari konten hoaks. Pertama, mereka menghapus semua konten dan laman yang melanggar standar komunitas, termasuk berupa penyebaran hoaks dan berita palsu.

Sementara, konten yang tergolong tidak melanggar standar komunitas tapi memiliki kualitas yang sangat buruk lantaran clickbait atau misinformasi maka akan dikurangi distribusinya. Laman yang memiliki konten dengan karakter tersebut tidak kakan diperbolehkan beriklan oleh Facebook.

"Laman itu tidak akan bisa beriklan karena kami melihat orang-orang yang punya motivasi untuk menyebarkan sesuatu apakah dengan motivasi finansial atau politik kalau mereka tidak bisa beriklan berarti akan sedikit orang yang akan melihat konten tersebut," terang Alice Budisarjito, News Partnership Lead Facebook Indonesia.

Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini juga mengatakan akan memberikan informasi tambahan mengenai suatu berita untuk pengugnanya. Misalnya ketika ada berita palsu yang sudah terlanjur menyebar, maka pengecek fakta akan menandainya sebagai berita palsu. Penyebar berita juga akan mendapatkan notifikasi bahwa berita yang disebarkannya palsu.

"Fact checker mendapatkan saran mengenai berita yang kemungkinan palsu dari Facebook berdasarkan AI kami yang bisa mendapatkan sinyal-sinyal kira-kira ini berita palsu nih," lanjutnya.

Setelah dipastikan palsu, lantas fact checker akan membuat berita bantahan yang biasanya juga dibubuhi informasi tambahan. Berita ini akan muncul di bawah link berita palsu sebagai berita terkait.

Sejauh ini, Facebook hanya memiliki satu mitra fact checker di Indonesia namun berjanji akan bekerjasama dengan media yang sudah mendapatkan sertifikasi dari International Fact-Checking Network (IFCN).

"Untuk menjaga independensi kami, kami mengandalkan internasional fact checking netwrok yang berisi fact checker seluruh dunia yang sudah diasses kompetensinya dalam menjalani fact checking," jelas Putri Dewanti, Communication Lead Facebook Indonesia menjelaskan alasan menggandeng IFCN.

Sementara untuk menyebarkan berita terpercaya, Facebook dikabarkan akan menghadirkan fitur yang mampu menambah keterikatan antara pembaca dengan berita. Beberapa fitur yang dimaksud yakni 'breaking news' dan tombol informasi 'i'. Indikator 'breaking news' digunakan ketika ada kejadian kritis yang perlu disebarkan dengan cepat. Sedangkan tombol informasi menampilkan tambahan info soal media yang menayangkan suatu berita. (evn)