Facebook kini mulai berbenah demi menghindarkan diri dari kesalahan yang membuat CA menggunakan data pengguna untuk memenangkan Donald Trump saat Pemilu 2016 lalu.
Sejumlah fitur dibuat untuk menekan lajur konten hoaks yang bisa memicu propaganda. Mengandalkan machine learning dan teknologi kecerdasan buatan (AI), Facebook mengklaim bisa menekan laju hoaks di platform mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:5 Cara Bedakan Berita Hoaks |
Sementara, konten yang tergolong tidak melanggar standar komunitas tapi memiliki kualitas yang sangat buruk lantaran clickbait atau misinformasi maka akan dikurangi distribusinya. Laman yang memiliki konten dengan karakter tersebut tidak kakan diperbolehkan beriklan oleh Facebook.
"Laman itu tidak akan bisa beriklan karena kami melihat orang-orang yang punya motivasi untuk menyebarkan sesuatu apakah dengan motivasi finansial atau politik kalau mereka tidak bisa beriklan berarti akan sedikit orang yang akan melihat konten tersebut," terang Alice Budisarjito, News Partnership Lead Facebook Indonesia.
Lihat juga:Hoaks dan Politik di Indonesia |
"Fact checker mendapatkan saran mengenai berita yang kemungkinan palsu dari Facebook berdasarkan AI kami yang bisa mendapatkan sinyal-sinyal kira-kira ini berita palsu nih," lanjutnya.
Setelah dipastikan palsu, lantas fact checker akan membuat berita bantahan yang biasanya juga dibubuhi informasi tambahan. Berita ini akan muncul di bawah link berita palsu sebagai berita terkait.
"Untuk menjaga independensi kami, kami mengandalkan internasional fact checking netwrok yang berisi fact checker seluruh dunia yang sudah diasses kompetensinya dalam menjalani fact checking," jelas Putri Dewanti, Communication Lead Facebook Indonesia menjelaskan alasan menggandeng IFCN.
Sementara untuk menyebarkan berita terpercaya, Facebook dikabarkan akan menghadirkan fitur yang mampu menambah keterikatan antara pembaca dengan berita. Beberapa fitur yang dimaksud yakni 'breaking news' dan tombol informasi 'i'. Indikator 'breaking news' digunakan ketika ada kejadian kritis yang perlu disebarkan dengan cepat. Sedangkan tombol informasi menampilkan tambahan info soal media yang menayangkan suatu berita. (evn)