Satelit ini diharapkan dapat membuka wilayah yang belum terjangkau dengan jaringan kabel optik Palapa Ring, terutama di kawasan terdepan, terluar dan tertinggal (3T) di Indonesia.
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI) Anang Latif mengatakan banyak daerah terluar Indonesia khususnya di Kalimantan dan Papua yang sulit diakses.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Anang menjelaskan hingga 2017, masih ada sekitar 9 ribu desa yang belum memiliki jaringan telekomunikasi. Namun, pihaknya berusaha merampungkan jaringan tersebut pada 2019.
"Pernah di satu daerah terluar Indonesia. Saya bertanya siapa Presiden saat ini, mereka jawab Gus Dur. Ini kan memprihatinkan," kata Anang.
Anang menjelaskan kemungkinan jumlah wilayah 3T akan meningkat. Pasalnya, masih banyak desa atau kelurahan di luar 3T yang masih kesulitan mendapatkan jaringan komunikasi, misalnya saja desa di Pulau Jawa juga masih ada yang belum mendapatkan jaringan internet.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sempat mengungkapkan satelit multifungsi tersebut akan berteknologi kecepatan tinggi atau high troughput sattelitte (HTS). (age)