Penyedia layanan transportasi daring lainnya, Grab sudah terlebih dahulu melakukan ekspansi di empat negara tersebut. Grab bahkan sudah menancapkan taji di delapan negara di Asia Tenggara. Artinya, akan ada 'perang' bidang transportasi daring di sana.
Namun menurut Rudiantara, Gojek akan tetap mampu bersaing dengan segala inovasinya, seperti layanan Go-Food, Go-Massage, Go-Clean, dan inovasi lainnya yang akan muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Grab Tak Gentar Hadapi Ekspansi Gojek |
Dengan layanan yang beragam itu, menurut Rudiantara, Gojek akan lebih berpotensi untuk bermitra dengan perusahaan lokal di keempat negara. Kemitraan itu pun bisa berdampak positif dalam perkembangan ekonomi Gojek di Asia Tenggara.
Rudiantara mengaku bangga dengan ekspansi Gojek yang notabene dibesut oleh anak bangsa. Ekspansi itu bisa menunjukkan bahwa Indonesia tak hanya menjadi pasar ekonomi digital, melainkan juga sebagai pelaku ekonomi digital.
"Sebagai unicorn Indonesia yang produknya unik (ride hailing) Gojek pandai melihat pasar kota-kota besar di Asean yang mempunyai karakteristik seperti Jakarta," kata Rudiantara.
Ekspansi Gojek juga menurutnya akan mendorong korporasi start-up di Indonesia untuk melakukan hal yang sama di Asia Tenggara. Ekspansi itu sendiri akan dilakukan beberapa bulan ke depan.
Tak tanggung-tanggung, perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini merogoh kocek US$500 juta (sekira Rp7,1 triliun) untuk rencana ekspansi bisnisnya. Untuk memuluskan rencana tersebut, Nadiem akan bekerja sama degan pemerintah dan perusahaan lokal di negara-negara setempat. (rsa)