Gojek Berpeluang Gerus Bisnis Grab di Asia Tenggara

JNP, CNN Indonesia | Minggu, 27/05/2018 02:04 WIB
Gojek Berpeluang Gerus Bisnis Grab di Asia Tenggara Meski tetap memiliki potensi gagal, ekspansi Gojek di Asia Tenggara berpotensi menggerus bisnis Grab yang saat ini masih mendominasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dominasi Grab dalam penyediaan transportasi daring di delapan negara Asia Tenggara tidak menyiutkan nyali Gojek untuk melakukan ekspansi. Gojek bahkan dinilai berpotensi menggerus bisnis Grab. 

Rencananya, Gojek akan berekspansi di empat dari delapan negara tersebut, yakni Vietnam, Thailand, Singapura, dan Filipina. Ekspansi ini didukung dengan suntikan dana yang cukup fantastis dari investor lokal maupun global yang mencapai US$500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun.

Pengamat Teknologi Informasi dari Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi mengatakan Gojek dianggap memiliki potensi di mata para investor untuk bersaing dengan Grab di negara lain.


"Gojek dinilai punya potensi untuk bersaing di negara lain. Gojek juga memiliki tim yang kuat untuk ekspansi," ujar Heru saat dikonfirmasi, Sabtu (26/5).

Investor dinilai percaya Gojek mampu meruntuhkan kedigdayaan Grab di Asia Tenggara. Oleh karena itu, mereka pun berani menyuntikkan dana ke Gojek sebesar Rp 7,1 triliun.

Kendati demikian, Heru menilai Gojek harus mampu membaca kebutuhan dan permintaan calon pelanggan di setiap negara. Gojek dinilai membutuhkan tim yang mampu merumuskan strategi pasar setiap negara yang diekspansi.

Strategi Gojek harus bisa berasimilasi dengan negara setempat, baik dengan peraturan maupun budaya budaya lokal.

"Tim yang tahu pasar dan kondisi di negara Asia Tenggara selain Indonesia. Mungkin di Thailand atau Kamboja tidak bisa karena mereka lebih menggunakan Tuktuk sehingga mungkin disesuaikan dari Gojek ke Gotuk misalnya," kata Heru

Heru menilai setiap negara memilik jenis pasar yang berbeda-beda. Oleh karena itu Gojek harus bisa mencari strategi yang pas dalam melakukan ekspansi. Tentu saja variasi strategi ini harus tetap dikendalikan oleh kantor pusat agar tidak terjadi kesalahan koordinasi.

"Harus ada manajemen yang mengatur semua dari pusat juga. Bisa saja strategi lokal akan berbeda keinginan dengan kantor pusat. Kendali terpusat harus tetap dimainkan," terang Heru.

Heru juga menilai sudah saatnya Gojek melakukan ekspansi. Pasalnya Grab yang berakuisisi dengan Uber, seolah bermain sendiri di lahan tranportasi daring di Asia Tenggara. Negara tersebut adalah Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.

"Kalau kita lihat, kan, persaingan Gojek dan Grab sekarang di Indonesia. Grab besar di luar Indonesia, khususnya Asia Tenggara. Jadi saya pikir tepat jika Gojek juga ingin menguasai Asia Tenggara," ungkap Heru.

Kendati demikian, Heru tidak memungkiri ada potensi kegagalan dalam ekspansi ini. Heru pun menyarankan Gojek untuk melakukan ekspansi secara bertahap. Keberhasilan ekspansi diperkirakan baru akan terlihat dalam satu hingga dua tahun ke depan.

"Potensi gagal juga bisa, seperti Uber masuk Indonesia gagal karena perlu penyesuaian dengan aturan lokal, melokalisasi layanan dan manajemen," pungkas Heru. (agi)