Studi Ungkap 1,4 Miliar Tahun Lalu, Sehari Hanya 18 Jam

JNP, CNN Indonesia | Kamis, 07/06/2018 08:05 WIB
Studi Ungkap 1,4 Miliar Tahun Lalu, Sehari Hanya 18 Jam Studi terbaru mengungkap pada 1,4 miliar tahun lalu durasi rotasi Bumi dalam sehari hanya 18 jam. (Foto: Dok. NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manusia pada umumnya hidup 24 jam dalam sehari. Akan tetapi, durasi satu hari 24 jam ini diperkirakan ke depannya akan bertambah. Alasannya, lantaran bulan secara perlahan bergerak menjauh dari Bumi.

Makin jauhnya bulan, menyebabkan daya gravitasi bulan atas bumi makin lemah, sehingga mengakibatkan Bumi berputar lebih lambat di porosnya. 

Bahkan para ilmuwan itu menyebut kalau 1,4 miliar tahun lalu durasi satu hari di Bumi hanya 18 jam saja. Saat itu posisi bulan lebih dekat ke bumi, sehingga memicu kian cepatnya rotasi Bumi. Peneliti memperkirakan bahwa dalam setahun, bulan menjauhi Bumi dengan jarak 3,8 sentimeter. 


Fakta ini didapat setelah para ilmuwan melakukan rekonstruksi sejarah Bumi. Profesor Geoscience Stephen Meyers yang terlibat dalam misi ini mengatakan temuan itu berdasarkan metode statistik kompleks.

Metode tersebut mengaitkan teori astronomi dengan pengamatan geologi yang dikenal sebagai astrochronology.

Namun, jika perhitungan ini digunakan untuk menghitung jarak Bulan-Bumi lebih dari 1,5 miliar tahun lalu, maka akan terjadi kekacauan. Sebab, mengacu pada perhitungan ini 1,5 miliar tahun lalu jarak Bulan sangat dekat dengan Bumi sehingga gravitasi keduanya bisa menghancurkan Bulan.

Padahal, peneliti tahu kalau Bulan berusia 4,5 Miliar tahun. Sehingga sangat mungkin ada kesalahan pada model perhitungan yang saat ini digunakan peneliti.

Pada dasarnya, metode astrochronology ini digunakan untuk menelisik bumi dan tata surya di masa lampau.

"Kami ini bisa mempelajari bebatuan yang berusia miliaran tahun seperti bagaimana kami meneliti proses geologis batuan.Metode ini juga digunakan untuk merekonstruksi sejarah tata surya dan memahami lebih jelas mengenai perubahan iklim dengan menangkap jejaknya di bebatuan. 

Sebagai contoh, para peneliti mempelajari formasi bebatuan Xiamaling di Cina Utara yang berusian 1,4 miliar tahun dan pegunungan bawah laut Walvis di bagian selatan Samudera Atlantik yang berusia 55 juta tahun.

Dengan mengamati jejak geologis yang terekam dalam batuan dan menggabungkan perhitungan akan mengungkap perubahan rotasi Bumi, orbit, dan jarak Bulan sepanjang sejarah. Hal ini juga mengungkap bagaimana panjang hari di Bumi perlahan terus bertambah.

peneliti bisa memastikan bahwa panjang waktu dalam sehari dan jarak antara Bumi dengan bulan. Saat itu, Meyers mengatakan jarak Bulan berdasarkan catatan sejarah.

"Catatan geologis adalah pengamatan astronomik mengenai bagaimana awal tata surya," jelas Meyer lagi seperti dilansir Space. (eks/evn)