SpaceX Dapat Kontrak Militer untuk Falcon Heavy

Eka Santhika, CNN Indonesia | Senin, 25/06/2018 06:55 WIB
Setelah kesulitan untuk mendapat kontrak untuk Falcon Heavy, SpaceX akhirnya mendapat kontrak berikutnya dari pihak militer Angkatan Udara Amerika Serikat. Peluncuran Falcon Heavy (REUTERS/Thom Baur)
Jakarta, CNN Indonesia -- SpaceX akhirnya mendapat kontrak berikutnya untuk roket terkuat didunia, Falcon Heavy. perusahaan tersebut mendapat kontrak militer rahasia dari Angkatan Udara AS untuk mengangkut misi AFSPC-52 ke orbit pada 2020.

"SpaceX merasa terhormat telah terpilih oleh Angkatan Udara untuk menggunakan Falcon Heavy untuk peluncuran misi AFSPC-52," jelas President and Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell dalam pernyataan yang dikutip CNNMoney.

Kontrak ini berhasil dimenangkan SpaceX dengan biaya peluncuran yang bernilai Rp1,8 triliun (US$130 juta). Padahal sebelumnya ElonMusk mengungkap bahwa untuk membangun sistem ini, pihaknya setidaknya menghabiskan dana US$500 juta dollar, seperti disebutkan The Verge
Terpaut jauh dari harga yang ditawarkan kompetitornya Lockheed Martin yang beraliansi dengan United Launch Alliance. Keduanya menawarkan biaya peluncuran menggunakan roket Delta 4 dengan biaya US$350 juta.


Harga yang kelewat murah inilah yang kemungkinan besar membuat Angkatan Udara AS luluh untuk akhirnya mengizinkan Falcon Heavy untuk membawa misi militer tersebut ke orbit.

Masalah izin tersebut terjadi lantaran SpaceX sempat gagal meluncurkan dua misi militer sebelumnya dengan Falcon 9. Satelit mata-mata Zuma milik Angkatan Udara yang bernilai miliaran dolar hilang. Selain itu, dua roket 9s juga meledak dalam uji coba peluncurannya.

Ini adalah misi kelima Falcon Heavy. Sebelumnya, roket ini sudah digunakan untuk mengangkut misi demonstrasi Air Force STP-2 dan satelit Arabsat yang rencananya akan dilakukan meluncur tahun ini.

Sementara itu, operator lain seperti Intelsat, Viasat and Inmarsat, juga memiliki jadwal peluncuran namun belum menentukan akan menggunakan roket mana untuk peluncuran tersebut.

Jadi sepertinya Falcon Heavy masih memiliki kesempatan untuk meluncurkan beberapa peluncuran lain sebelum menangani misi Angkatan Udara AS. (eks/eks)