"SpaceX merasa terhormat telah terpilih oleh Angkatan Udara untuk menggunakan Falcon Heavy untuk peluncuran misi AFSPC-52," jelas President and Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell dalam pernyataan yang dikutip CNNMoney.
Kontrak ini berhasil dimenangkan SpaceX dengan biaya peluncuran yang bernilai Rp1,8 triliun (US$130 juta). Padahal sebelumnya ElonMusk mengungkap bahwa untuk membangun sistem ini, pihaknya setidaknya menghabiskan dana US$500 juta dollar, seperti disebutkan The Verge.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah izin tersebut terjadi lantaran SpaceX sempat gagal meluncurkan dua misi militer sebelumnya dengan Falcon 9. Satelit mata-mata Zuma milik Angkatan Udara yang bernilai miliaran dolar hilang. Selain itu, dua roket 9s juga meledak dalam uji coba peluncurannya.
Lihat juga:Mengukur Kekuatan Roket Super SpaceX |
Sementara itu, operator lain seperti Intelsat, Viasat and Inmarsat, juga memiliki jadwal peluncuran namun belum menentukan akan menggunakan roket mana untuk peluncuran tersebut.
Jadi sepertinya Falcon Heavy masih memiliki kesempatan untuk meluncurkan beberapa peluncuran lain sebelum menangani misi Angkatan Udara AS. (eks)