KPU Klaim Dibantu Relawan Pegiat TI Hadapi Peretas

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Sabtu, 30/06/2018 02:40 WIB
KPU Klaim Dibantu Relawan Pegiat TI Hadapi Peretas KPU tak bekerja sendiri mengamankan sistem penghitungan suara Pilkada 2018. Mereka mengaku dibantu secara sukarela oleh pegiat TI untuk mencegah peretas. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Azis mengklaim pihaknya dibantu oleh sejumlah pegiat teknologi dan informasi (TI) dalam proses penghitungan suara Pilkada 2018.

Pegiat TI yang disebut Viryan itu disebut membantu KPU dalam bentuk mengawasi bila ada pihak berencana atau berupaya meretas sistem informasi KPU, secara sukarela.

"Sampai hari ini, sejumlah pihak yang tidak bekerja sama dengan KPU pun secara partisipan membantu menginfokan. 'Eh ada ini lho', itu diinfokan. Nah kita senang," tutur Viryan di kantor KPU, Jakarta, Jumat (29/6).


Viryan menyambut baik iktikad para pegiat TI tersebut meski tidak bekerja sama atau terlibat dalam tim IT yang telah dimiliki KPU. Menurut Viryan, hal itu merupakan bentuk kesadaran yang tinggi dari para pegiat IT bahwa Pilkada 2018 harus diawasi bersama.


Viryan pun mengaku KPU sudah menjelaskan kepada para pegiat TI perihal betapa pentingnya Pilkada 2018. Kepentingan publik begitu besar terkandung dalam perhelatan demokrasi tersebut.

Bagaimana tidak, jumlah pemilih yang terlibat diperkirakan mencapai 152 juta warga Indonesia di 171 daerah yang menghelat Pilkada 2018.

KPU, kata Viryan, sebetulnya telah mempersiapkan diri untuk mencegah terjadinya peretasan.

Dia mengklaim Tim TI KPU telah membentuk sistem keamanan sedemikian rupa sehingga sulit ditembus oleh peretas. Selain itu, KPU pun menjalin koordinasi dengan instansi terkait yang mampu membantu KPU memperkuat sistem keamanan.

Namun Viryan tidak ingin tinggi hati. Dia mengatakan sistem informasi KPU pun masih memiliki kelemahan dan bisa diretas. Karenanya, KPU mengajak sejumlah pegiat TI untuk turut membantu mengawasi.


"Kami sadar, sebagusnya KPU mem-protect diri dari serangan, lubang itu tetap ada. Nah, kan di Indonesia ini [hackernya] dikenal jago-jago, nah untuk pemilu mari kita sama-sama menjaga," katanya.

Sebelumnya konsultan TI KPU Harry Sufehmi mengaku mendapat ratusan misscall dari nomor tak dikenal. Hal itu dia alami pada Rabu (27/6) tengah malam hingga Kamis (28/6).

Mengenai hal itu, Viryan membantah anggapan bahwa sistem TI KPU telah diretas. Viryan mengatakan kejadian yang dialami Harry tidak berujung pada peretasan sistem TI KPU.

Viryan mengklaim sistem informasi KPU masih berjalan sebagaimana mestinya. Mengenai hitung riil KPU yang ditampilkan pada laman infopemilu.kpu.go.id, Viryan juga mengatakan tidak ada yang dimanipulasi.

"Alhamdulilah berjalan sesuai harapan. memang terjadi gangguan seperti ada upaya dengan cara di DOS dan ini bisa dideteksi dan bisa diselesaikan oleh tim kami," ucap Viryan.

(end)