China Tingkatkan Kemampuan Kecerdasan Buatan untuk Kesehatan

JNP, CNN Indonesia | Senin, 02/07/2018 09:06 WIB
China Tingkatkan Kemampuan Kecerdasan Buatan untuk Kesehatan ilustrasi. (Foto: Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelegent (AI) terus dikembangkan untuk membantu keperluan manusia. Di China, AI dan kumpulan banyak data digunakan dalam ambulans untuk menerobos kemacetan dengan lampu-lampu hijau yang khusus menyala bagi ambulans.

Sistem ini termasuk mengirimkan informasi ke komputer sentral yang dihubungkan dengan jaringan transportasi kota.

Dilansir dari sistem ini merupakan bagian dari uji coba Alibaba Group yang berharap untuk menggunakan cloud dan sistem data untuk menangani masalah sistem kesehatan di China.
Masalah sistem kesehatan di China ternyata mirip dengan Jakarta, yaitu kemacetan lalu lintas, antrean pasien yang panjang, dan kekurangan dokter.


Usaha Alibaba mengembangkan teknologi baru ini mencerminkan tren di China. Di mana perusahaan teknologi berlomba-lomba untuk melakukan inovasi dalam sektor kesehatan yang dikelola negara.

Inovasi ini membuat para perusahaan teknologi bisa menikmati pengeluaran negara yang diperkirakan akan menyentuh US$1 trliun pada 2020.

Tren ini bisa dilihat dari banyaknya teknologi yang diciptakan oleh peruhaan teknologi. WeDoctor didukung oleh Tencent dan Ping An Good Doctor yang didukung oleh Ping An Insurance menawarkan konsultasi dan janji bertemu dokter secara daring.
WeDoctor pada bulan Mei berhasil mengumpulkan US$500 juta sedangkan Ping An Good Doctor mengumpulkan US$1,1 miliar dalam penawaran umum perdana (Initial Public Offering).

"Kesempatan ini berkembang sangat cepat," kata Chief Machine Intelligence Scientist di Divisi Cloud Alibaba Min Wanli.

Alibaba juga bekerja sama dengan rumah sakit di Shanghai menggunakan data untuk memprediksi kebutuhan pasien dan pengalokasian dokter. Di Provinsi Zhejiang, Alibaba juga mengembangkan alat diagnosis yang dibantu dengan AI untuk menganalisis gambar medis seperti CT Scan dan MRIs.
Oleh karena itu Min mengatakan tidak perlu lagi menggunakan SDM yang langka untuk membaca gambar ini.

"Calon tenaga kerja harus melalui pelatihan yang sangat khusus untuk membaca CT Scan dan MRI," ujar Min.

Perkembangan Teknologi di Rumah Sakit Menutup Jurang Kesenjangan

Rumah sakit di China meningkatkan penggunakan teknologi untuk menjembatani kesenjangan antara pusat kota dengan daerah terpencil. Di mana daerah terpencil itu sering kali kekurangan dokter dan pasokan medis.
Dengan menggunakan sistem pembagian dokumen dan live streaming video, dokter spesialis bisa mengarahkan staf medis junior di daerah untuk dapat melakukan penanganan yang tepat kepada pasien.
Salah satu jaringan dokter daring terbesar di Cina, DXY menawarkan konsultasi dalam WeChat kepada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes. Dalam percakapan di WeChat ini akan melibatkan tim perawat dan dokter yang akan memberikan saran medis.

Pada saat yang sama, Kota Beijing berjanji akan memberikan akses layanan kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan perawatan masyarakat meskipun kekurangan dokter. Di sini lah teknologi berperan penting untuk membantu sumber daya yang terbatas itu. (age/age)