Survei: Alasan Orang Indonesia Enggan Beli Kendaraan Listrik

JNP, CNN Indonesia | Kamis, 12/07/2018 10:00 WIB
Survei: Alasan Orang Indonesia Enggan Beli Kendaraan Listrik Motor listrik Viar sudah bisa dibeli konsumen di Indonesia. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia masih membutuhkan waktu yang panjang. Hasil survei dari perusahaan konsultan manajemen Solidiance menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap penggunaan EV baik itu mobil atau sepeda motor masih rendah.

Dari total 200 responden, terbagi menjadi 100 pemilik motor dan 100 pemilik mobil di Indonesia. Hasil survei menunjukkan dari 63 orang pemilik sepeda motor mengetahui bahwa motor listrik dijual di Indonesia, namun 83 persen dari 63 orang itu mengatakan tidak bersedia membeli sepeda motor listrik dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Minat yang lebih rendah ditunjukkan bagi pemilik mobil, sebanyak 46 orang mengatakan mengetahui adanya mobil listrik yang dijual di Indonesia. Dari 46 orang itu, 96 persennya mengatakan tidak bersedia membeli mobil listrik dalam kurun waktu yang sama.


"Untuk motor listrik mayoritas mereka tahu, kalau mobil listrik ternyata banyak juga yang tidak tahu, ya fifty-fifty. Kami juga melihat bagi mereka yang tahu, seberapa yang masih mau berganti dari kendaraan fosil fuel vehicle ke EV, sebagian besar tidak mau untuk berpindah," kata Konsultan Senior Solidiance Yosua Danny Devara di Jakarta, kemarin.
Yosua mengatakan dari hasil survei tersebut, muncul tiga faktor utama penyebab masyarakat Indonesia enggan untuk beralih menggunakan EV. Faktor pertama adalah daya jelajah kendaraan listrik. Untuk sepeda motor listrik dengan baterai berkapasitas 2 kWh hanya mampu menempuh jarak 60 kilometer. 60 kilometer ini dari baterai penuh hingga kosong, butuh waktu pengisian lima sampai tujuh jam.

Berdasarkan hasil survei sebanyak 68 persen dari 63 pengguna sepeda motor mempermasalahkan kemampuan jelajah sepeda motor listrik. Sedangkan 78 persen dari 46 pengguna mobil juga mempermasalahkan hal yang sama.

"Ada kekurangan dari motor listrik, motor listrik kapasitas baterai 2 kWh itu sekali full charge hanya bisa dipakai untuk 60 kilometer sampai kosong. Itu menjadi keterbatasan juga karena sulit menemukan SPLU (Stasiun Penyedia Listrik Umum). Selain itu kecepatan maksimal motor elektrik hanya 60 kilometer per jam," ujar Yosua.

Faktor kedua adalah keberadaan infrastruktur SPLU yang masih minim. Tercatat pada Desember 2017, terdapat lebih dari 1.300 SPLU di seluruh Indonesia yang tersebar di 24 kota. Sekitar 71 persen dari SPLU tersebut berada di DKI Jakarta. Berdasarkan hasil survei sebanyak 81 persen dari 63 pengguna sepeda motor mempermasalahkan infrastruktur SPLU. Sedangkan 78 persen dari 46 pengguna mobil juga mempermasalahkan hal tersebut.
Faktor ketiga adalah masih banyak perusahaan finansial yang belum membuka layanan cicilan untuk pembelian kendaraan listrik. Padahal berdasarkan riset, 80 persen masyarakat di Indonesia membeli kendaraan secara kredit.

"Selain itu masih banyak perusahaan perbankan yang masih belum mau kasih kredit. Untuk motor listrik leasing. Oleh karena itu saat mereka shifting ke kendaraan listrik, sangat terbatas sekali pilihan mereka untuk menggunakan perusahaan finance yang buka leasing," ujar Associate Partner Solidiance Gervasius Samosir. (mik)