Tunduk pada China, Apple Manut iCloud Dikelola Pemerintah

Eka Santhika, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 13:37 WIB
Tunduk pada China, Apple Manut iCloud Dikelola Pemerintah Ilustrasi logo Apple (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apple tunduk pada pemerintah China dan menyerahkan pengelolaan iCloud pada perusahaan pemerintah. Hal ini menyusul pengumuman pemerintah China yang meminta Apple untuk menyerahkan pengelolaan layanan penyimpan awan itu kepada perusahaan di China jika Apple ingin meneruskan layanan tersebut di negara Tirai Bambu itu.

Apple menyerah dan memilih perusahaan hosting yang dikendalikan pemerintah, Guizhou-Cloud Big Data sebagai penyedia ruangan data center iCloud di China. Dengan demikian, data berupa gambar, teks, catatan, dan kalender, semua akan disimpan di data center milik pemerintah China.

Meski demikian, Apple menyebutkan bahwa data pengguna akan tetap dijaga untuk memastikan keamanan dan privasi pengguna.


Tunduknya Apple atas permintaan pemerintah China ini jelas karena Apple punya pasar penting di China. Negara ini adalah salah satu mesin penjualan Apple, baik untuk penjualan iPhone dan berbagai layanan lainnya. Saat ini ada 130 juta pengguna iPhone di China.

Namun, juru bicara Apple menyebut bahwa perjanjian hosting dengan perusahaan hosting milik operator pemerintah China Telecom ini hanya bersifat sementara, seperti diutarakan kepada Fast Company

Sebelumnya, Apple sempat melawan ketentuan hosting dari pemerintah China ini. Tapi perlawanan ini berakhir sia-sia.

"Pilihan kami adalah menyediakan iCloud dibawah aturan baru atau mengentikan layanan tersebut. Kami memilih untuk meneruskan layanan atas pertimbangan jika kami menghentikan iCloud akan mengurangi kenyamanan pemakaian dan mengurangi keamanan dan privasi data dari pelanggan kami di China."

Menanggapi aturan China tersebut, Amnesti Internasional juga sempat merilis penyataan, " dengan menyerahkan layanan iCloud di China ke perusahaan lokal tanpa penjagaan yang memadai, otoritas China kini berpotensi mengakses data pelanggan Apple iCloud di China," jelas Nicholas Bequelin, Direktur Amnesti Internasional Asia Timur, seperti dikutip CNET. (eks)