China Gunakan Virtual Reality Atasi Kecanduan Obat Terlarang

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Selasa, 31/07/2018 22:23 WIB
Teknologi virtual reality saat ini digunakan oleh pusat rehabilitasi pencandu obat-obatan di China. Ilustrasi (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teknologi virtual reality (VR) saat ini telah digunakan untuk rehabilitasi pencandu obat-obatan. Sistem yang telah diimplementasikan oleh pusat rehabilitasi China ini akan memonitor pergerakan mata, panas tubuh dan detak jantung.

Pusat rehab Cina datang dengan solusi teknologi tinggi untuk menangkap narapidana yang berbohong tentang kecanduan mereka, menggoda mereka dengan realitas virtual.

Sebuah program percontohan di Shanghai menggunakan headset VR untuk menemukan apakah pecandu masih mendambakan obat-obatan, dan menjadikannya serangkaian adegan realistis yang menguji apakah mereka senang dengan prospek menggunakan zat terlarang.
CNET melansir dari The China Post, jika ada seorang pecandu yang berlama-lama di tempat orang yang berbagi narkoba mungkin mengindikasikan bahwa dia masih tertarik untuk menjadi pecandu.


Perangkat ini melacak gerakan bola mata, sementara monitor aksesori lainnya naik dalam suhu tubuh dan detak jantung untuk memberi staf rasa keinginan seorang pecandu untuk obat-obatan.

Cina mengharuskan orang yang tertangkap memiliki atau menggunakan narkoba untuk menghabiskan dua tahun di fasilitas rehabilitasi meskipun mereka dapat dibebaskan untuk perilaku yang baik.

Sistem VR sudah digunakan di beberapa pusat rehabilitasi di Shanghai dan dapat diperluas ke fasilitas lain setelah para ahli menyetujui itu di sebuah konvensi pada bulan April, menurut media lokal. Jika hasilnya signifikan, pemerintah kabarnya akan menstandardisasi program ini. (age/age)