Asal Usul Nama Hujan Meteor Quadrantids, Pereids, & Geminids

RBC, CNN Indonesia | Minggu, 12/08/2018 18:27 WIB
Asal Usul Nama Hujan Meteor Quadrantids, Pereids, & Geminids ilustrasi. (Foto: Ethan Miller/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terdapat tiga hujan meteor yang dapat disaksikan oleh penduduk bumi setiap tahunnya. Ketiganya adalah Quadrantids yang terjadi di awal bulan Januari, Perseids di pertengahan bulan Agustus, dan Geminids di pertengahan bulan Desember.

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Thomas Djamaluddin, hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat hujan meteor tersebut tampak terpancar.

"Titik itulah yang disebut radian, adalah titik persinggungan atmosfer bumi dengan gugusan debu komet," tulis Thomas di dalam postingan di blog-nya.


Namun, Quadrantids memiliki asal-usul nama yang sedikit berbeda. Dilansir dari Space.comNASA menyebutkan bahwa Quadrantids dinamai menurut instrumen astronomi yang digunakan untuk mengamati dan merencanakan bintang. Quadrans Muralis terletak di antara konstelasi Draco dan Boötes, di dekat Big Dipper.
Beberapa astronom menyarankan agar hujan meteor ini disebut Boötids karena dia bersinar di rasi Boötes. Namun, sudah ada hujan meteor yang terjadi pada akhir Juni di belahan bumi bagian selatan yang menggunakan nama itu.

Hujan meteor Perseids mendapatkan namanya dari rasi bintang Perseus, karena titik radiannya seolah-olah berasal dari rasi bintang itu. Hal yang sama pun diterapkan pada hujan meteor Geminids yang seakan berasal dari rasi bintang Gemini.

Akhir pekan ini adalah puncak dari hujan meteor Perseids. Thomas mengatakan, untuk menyaksikan puncak hujan meteor Perseids masyarakat dapat mengamati langit pada hari Minggu (12/8) dan Senin (13/8) dini hari.
Hujan meteor ini dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Namun, untuk pengamatan terbaik, peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto mengimbau masyarakat untuk pergi ke tempat yang jauh dari lampu-lampu kota.

"Tempat yg ideal untuk lihat hujan meteor adalah gelap, bebas polusi cahaya, dan cerah. Di mana saja di Indonesia bisa asal kedua syarat terpenuhi. Cari tempat di pinggiran kota atau luar kota," tuturnya. (age/age)