Pilpres 2019, Hoaks dan Ujaran Kebencian Masih Akan Berlanjut

RBC, CNN Indonesia | Minggu, 12/08/2018 20:54 WIB
Pilpres 2019, Hoaks dan Ujaran Kebencian Masih Akan Berlanjut Ilustrasi (REUTERS/Lucas Jackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chairman Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho memprediksi tren penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di kalangan netizen Indonesia masih akan terus berlanjut menjelang Pilpres 2019.

"Karena berkat perkembangan teknologi informasi yang pesat dan semakin terjangkau, pertarungan opini di dunia maya merupakan pilihan termudah dan utama bagi masyarakat," ujar Septiaji kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi, Jumat (11/8).

Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu maraknya hoaks dan ujaran kebencian pada tahun politik, yaitu polarisasi antarkekuatan politik dan tingkat literasi digital serta literasi media masyarakat yang masih rendah.


Ia menambahkan ada juga sejumlah faktor yang dapat menyebabkan redamnya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Salah satunya adalah ketika kubu-kubu politik yang bersaing memiliki selisih elektabilitas yang jauh.

"Jika selisih elektabilitas antarkandidat cukup jauh, bisa jadi ini bisa agak meredam penyebaran ujaran kebencian dan hoaks, berbeda jika selisihnya tidak terpaut banyak," katanya.

Septiaji juga menyebut jika pihak-pihak yang bersaing melakukan kampanye dengan menggunakan politik identitas, ujaran kebencian dan hoaks akan lebih rentan muncul.

Menurut data yang dihimpun oleh Mafindo, selama Juli 2018 terdapat sebanyak 13 konten ujaran kebencian dan hoaks berbau politik yang disebarkan melalui berbagai platform di dunia maya.

Oleh sebab itu, Septiaji berharap para elit politik dapat terlebih dahulu memberikan teladan berpolitik yang baik kepada masyarakat, untuk meredam derasnya hoaks dan ujaran kebencian yang dipicu oleh ekosistem politik yang tidak sehat.

"Kita berharap para elit politik sadar bahwa kontestasi yang menghalalkan segala cara, termasuk membiarkan atau bahkan merekayasa berita bohong untuk menjatuhkan lawannya, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai dasar bangsa ini," tegasnya. (eks/eks)