"Karena berkat perkembangan teknologi informasi yang pesat dan semakin terjangkau, pertarungan opini di dunia maya merupakan pilihan termudah dan utama bagi masyarakat," ujar Septiaji kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi, Jumat (11/8).
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu maraknya hoaks dan ujaran kebencian pada tahun politik, yaitu polarisasi antarkekuatan politik dan tingkat literasi digital serta literasi media masyarakat yang masih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika selisih elektabilitas antarkandidat cukup jauh, bisa jadi ini bisa agak meredam penyebaran ujaran kebencian dan hoaks, berbeda jika selisihnya tidak terpaut banyak," katanya.
Oleh sebab itu, Septiaji berharap para elit politik dapat terlebih dahulu memberikan teladan berpolitik yang baik kepada masyarakat, untuk meredam derasnya hoaks dan ujaran kebencian yang dipicu oleh ekosistem politik yang tidak sehat.
"Kita berharap para elit politik sadar bahwa kontestasi yang menghalalkan segala cara, termasuk membiarkan atau bahkan merekayasa berita bohong untuk menjatuhkan lawannya, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai dasar bangsa ini," tegasnya. (eks)