Saring Pornografi, Kominfo Andalkan Fitur Google

JNP, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 08:40 WIB
Saring Pornografi, Kominfo Andalkan Fitur Google Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Untuk menyaring konten pornografi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengandalkan fitur safe search dari Google dan meminta penyedia ISP untuk mengaktifkan fitur itu di peramban Google Chrome.

"Kami melakukan meminta 25 ISP melakukan routing default ke safe search di mesin pencari Google," ujar Rudiantara saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis malam (9/8).

Fitur ini sebenarnya sudah disediakan di laman mesin pencari Google. Tapi, fitur safe search mesti diaktifkan secara manual oleh pengguna jika ingin hasil pencarian Google terbebas dari konten pornografi.


Saring Pornografi, Kominfo Minta ISP Aktifkan 'Safe Search'Saat ini fitur Safe Search telah diaktifkan secara otomatis oleh ISP (dalam kotak merah). Dengan demikian hasil pencarian di Google Chrome tidak menampilkan gambar pornografi. Nantinya pengaturan ini juga akan diterapkan di mesin pencari lainnya (Google)
Oleh karena itu, Rudiantara menyebut Kominfo sengaja mengambil langkah untuk meminta ISP secara otomatis mengaktifkan fitur safe search ini di di layanan mereka. Sehingga otomatis semua hasil pencarian pengguna tak lagi menampilkan konten pornografi.


Saat ini pengaturan default untuk safe search baru diberlakukan untuk peramban Google Chrome saja. Sebab, Rudi menilai pengguna Chrome memiliki jumlah lebih banyak di Indonesia. Tapi, gambar-gambar porno tersebut masih muncul ketika pengguna melakukan pencarian lewat peramban lain.

"Untuk Google, kita akan bicarakan yang sejenis. Nanti semuanya akan diterapkan safe search tapi untuk sekarang kan orang-orang kebanyakan memakai Google Chrome," jelas Rudi.

Rudiantara menegaskan nantinya pemblokiran ini juga akan dilakukan pada mesin pencari lainnya seperti Opera atau Mozilla Firefox.

Rudi menyebut bahwa Kominfo harus mengambil tindakan penyaringan yang tersentralisasi ini karena masih banyak orang Indonesia belum tahu soal pengaturan safe search. Berbeda dengan pengguna di Amerika Serikat yang telah mengaktifkan pengaturan pencarian aman ini secara mandiri.

"Di Indonesia kalau mengandalkan pengaturan manual itu ya tidak bisa. Masyarakat Indonesia tingkat literasi digitalnya jauh di bawah Amerika. Jadi pemerintah mengambil keputusan ini, karena konteks pornografi itu jelas," kata Rudiantara. (eks/eks)