Harian New York Times dikutip Reuters mengatakan bahwa karyawan perusahaan ini menuntut keterbukaan sehingga mereka mengetahui dampak moral dari hasil karya mereka.
Surat protes itu ditandatangani oleh 1.400 karyawan dan beredar di sistem komunikasi internaal Google, tulis koran ini dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui dokumen tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarahan karyawan Google ini dipicu oleh satu laporan The Intercept bahwa perusahaan itu secara diam-diam sedang membuah satu mesin pencari yang akan memfilter konten-konten yan gdilarang di China. Dengan kata lain tunduk pada aturan sensor ketat China.
Perusahaan ini menarik mesin pencarinya dari China delapan tahun lalu karena sensor dan peretasan.
Perusahaan teknologi raksasa ini sebelumnya dikecam ribuan karyawan yang menandatangani petisi menolak kontrak dengan militer AS senilai US$10 juta, kontrak itu kemudian tidak diperpanjang.
Google sebelumnya berupaya menyetop kebocoran dan konflik yang mulai muncul di dalam perusahaan mereka dengan membatasi akses para pegawai pada dokumen terkait proyek tersbut.
Perusahaan Amerika ini dilaporkan melakukan serangkaian upaya untuk kembali menembus pasar di China, termasuk di antaranya dengan mencari mitra lokal seperti Tencent Holdings, untuk membangun pusat data dan jasa layanan internet cloud.
Perusahaan teknologi AS kesulitan melakukan bisnis di China karena pemerintah negara ini kerap memblokir isu-isu sensitif seperti pembantaian Tiananmen 1989.
Situs Twitter, Facebook, YouTube dan The New York Times juga hingga saat ini diblokir di China, meski mesin pencari Bing milik Microsoft bisa terus beroperasi. (yns)