Karyawan Google Protes Proyek Pencari Internet Ramah Sensor

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 13:32 WIB
Karyawan Google Protes Proyek Pencari Internet Ramah Sensor Karyawan Google mempertanyakan proyek mesin pencari ramah sensor karena khawatir bertentangan dengan isu moral dan etika. (Google Doodle)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 1.000 karyawan Google menandatangani surat protes terkait rencana pembuatan mesin pencari ramah sensor oleh perusahaan itu sebagai upaya kembali hadir di wilayah China.

Harian New York Times dikutip Reuters mengatakan bahwa karyawan perusahaan ini menuntut keterbukaan sehingga mereka mengetahui dampak moral dari hasil karya mereka.

Surat protes itu ditandatangani oleh 1.400 karyawan dan beredar di sistem komunikasi internaal Google, tulis koran ini dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui dokumen tersebut.
Surat itu menegaskan bahwa proyek mensin pencari dan perilaku Google untuk mnerima persyaratan sensor yang ditetapkan pemerintah China "memicu isu moral dan etika".


"Saat ini kami tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk bisa mengambil keputusan yang sesuai dengan etika terkait tugar, proyek dan pekerjaan kami," ujar surat itu seperti ditulis New York Times.

Kemarahan karyawan Google ini dipicu oleh satu laporan The Intercept bahwa perusahaan itu secara diam-diam sedang membuah satu mesin pencari yang akan memfilter konten-konten yan gdilarang di China. Dengan kata lain tunduk pada aturan sensor ketat China.

Perusahaan ini menarik mesin pencarinya dari China delapan tahun lalu karena sensor dan peretasan.

Proyek baru itu diberi kode "Dragonfly".

Perusahaan teknologi raksasa ini sebelumnya dikecam ribuan karyawan yang menandatangani petisi menolak kontrak dengan militer AS senilai US$10 juta, kontrak itu kemudian tidak diperpanjang.
Karyawan Google khawatir dengan proyek baru ini karena mereka kemungkinan tidak tahu sedang membuat teknologi yang bisa membantu pemerintah China menyembunyikan informasi dari rakyatnya.

Google sebelumnya berupaya menyetop kebocoran dan konflik yang mulai muncul di dalam perusahaan mereka dengan membatasi akses para pegawai pada dokumen terkait proyek tersbut.

Perusahaan Amerika ini dilaporkan melakukan serangkaian upaya untuk kembali menembus pasar di China, termasuk di antaranya dengan mencari mitra lokal seperti Tencent Holdings, untuk membangun pusat data dan jasa layanan internet cloud.

Perusahaan teknologi AS kesulitan melakukan bisnis di China karena pemerintah negara ini kerap memblokir isu-isu sensitif seperti pembantaian Tiananmen 1989.

Situs Twitter, Facebook, YouTube dan The New York Times juga hingga saat ini diblokir di China, meski mesin pencari Bing milik Microsoft bisa terus beroperasi.
(yns/yns)