Rencana Kompromi dengan China, Google Disebut Munafik

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 18/08/2018 17:26 WIB
Rencana Kompromi dengan China, Google Disebut Munafik Ilustrasi. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemarahan karyawan Google terhadap rencana membuat mesin pencari ramah sensor untuk menyenangkan para pejabat China menggarisbawahi dilema yang dihadapi oleh perusahaan teknolosi AS untuk masuk ke pasar yang menguntungkan.

Memanfaatkan teknologi untuk membuat dunia menjadi lebih baik adalah mantra terkenal dari Lembah Silicon. Perusahaan seperti Google dan Facebook menggembar-gemborkan mantra ini sehingga menjadi bagian dari identitas mereka.

Idealisme ini kini berulang kali berbenturan dengan tembok realitas ketika perusahaan-perusahaan internet harus melakukan kompromi dengan kepentingan pemerintah yang menganut pendekatan bersifat menekan terhadap kegiatan online.


"Industri teknologi sebelumnya memiliki pandangan utopia terhadap dunia dan diri mereka sendiri," kata Irina Raicu, direktur program etika internet dari Universitas Santa Clara di Lembah Sillicon.

"Mereka kini berhadapan dengan pandangan mereka sendiri terkait nilai-nilai yang mereka percaya."

Raicu menambahkan Google akan kesulitan menjelaskan keikutsertaan mereka dalam sensor internet di China, setelah sebelumnya menggambarkan diri sebagai pendukung ketersediaan informasi secara bebas di dunia.

Lebih dari 1.000 karyawan Google dilaporkan telah menandatangani surat protes setelah muncul berita bahwa perusahaan ini sekarang tengah membuat mesin pencari ramah sensor agar bisa kembali masuk ke China.

Para karyawan ini menuntut informasi lebih lengkap mengenai proyek yang disebut "Dragonfly" itu agar mereka bisa menimbang asas moralitas pekerjaan mereka di perusahaan itu.

"Kita sedang melihat para pakar teknologi itu mempergunakan kekuatan mereka," kata Raicu.

"Mereka memang ingin membuat dunia menjadi lebih baik, dan proyek itu bertentangan."

Perusahaan-perusahaan di Lembah Sillicon kini mengalami tantangan etika global seperti industri lain, tetapi mereka menghadapi penentangan dari karyawan dan pertanyaan dari pengguna karena sebelumnya mereka membangun citra sebagai pihak yang memiliki tujuan baik, atau setidaknya "bukan penjahat."

Facebook dilarang di China, tetapi jejaring sosial online terkemuka ini tidak patah arang dalam mencari jalan untuk kembali hadir di negara itu, bahkan langkah itu hanya berupa "inkubator" yang membimbing pengusaha lokal.

Tahun lalu Facebook diam-diam merilis applikasi mobile berbagi foto bernama Colorful Balloons di China.

Dua tahun lalu, perusahaan ini dilaporkan sedang membuat alat sensor yang menjaring isu-isu terlarang di China.

Bahkan Apple, perusahaan paling berharga di dunia, harus membuat konsensi di China dengan menarik sejumlah applikasi dari toko Apps-nya dan menyerahkan kendali akun clouds pelanggan China ke perusahaan setempat.

Sementara perusahaan internet China seperti Baidu, Tencent, Alibaba dan WeChat berkembang dengan pesat.

Google dan raksasa teknologi Amerika lainnya secara hukum wajib memaksimalkan nilai investasi pemegang saham mereka, tetapi ketika dipandang sebagai "pembantu rezim penekan di China" bisa mempengaruhi bisnis mereka dan juga reputasinya.

Peneliti internet dari Human Rights Watch Cynthia Wong meminta perusahaan-perusahaan teknologi yang ingin berbisnis di China memiliki rencana untuk memperbaiki situasi sensor dan hak asasi manusia yang menurutnya semakin buruk sejak Google hengkang.

"Google ingin mengorganizir informasi dunia; Facebook ingin agar semua orang saling berhubungan," kata Wong.

"Menurut saya para pakar teknologi itu benar-benar percaya pada misi tersebut, dan ini yang membedakan reaksi di Lembah Sillicon dengan sektor minyak, misalnya."

Ann Skeet dari Universitas Santa Clara mengatakan Google adalah satu dari perusahaan Lembah Sillicon yang membanggakan budaya terbuka dimana karyawan diminta untuk mengeluarkan pendapat, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung sifat pegiat dari karyawan ketika ada nilai yang dikompromikan.

"Google terdepan dalam budaya ini, dan sekarang karyawannya menyebut perusahaan itu bersikap munafik," kata Skeet.

Para karyawan yang kebanyakan adalah milenial juga merasa memiliki hak untuk mengetahui bagaimana karya mereka akan dipergunakan sehingga mereka bisa memutuskan untuk berpartisipasi atau tidak.

(ard/yns)