Calon Astronaut NASA Mundur Setelah Kalahkan 18 Ribu Kandidat

RBC, CNN Indonesia | Jumat, 31/08/2018 10:35 WIB
Calon Astronaut NASA Mundur Setelah Kalahkan 18 Ribu Kandidat Ilustrasi (Maxim Zmeyev)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah berhasil mengalahkan 18.300 kandidat calon astronaut NASA lainnya dan menjadi 12 besar yang terpilih, seorang pria asal Alaska malah mengundurkan diri. Proses seleksi juga sudah berlangsung sejak pertengahan tahun 2017 lalu.

Ini adalah peristiwa pertama yang terjadi dalam 50 tahun terakhir. Sebab, kejadian serupa terakhir terjadi pada 1968, 50 tahun lalu. Saat itu, dua orang kandidat astronaut meninggalkan program pelatihan NASA sebelum dinyatakan layak melakukan perjalanan ke ruang angkasa.

Ketika itu, Bryan O'Leary keluar dari program pelatihan karena dinyatakan tidak memiliki prospek untuk melakukan perjalanan antariksa. Sedangkan, John Llewellyn harus meninggalkan NASA karena disebut tidak mengalami kemajuan dalam mengendalikan jet.


Keikuitsertaannya dalam seleksi calon astronaut ini bukan yang pertama kali baginya. Kulin telah mencoba peruntungannya sebanyak tiga kali. Ia akhirnya berhasil diterima pada percobaan ketiganya di tahun 2017, mengalahkan lebih dari 18 ribu kandidat lain.

Robb Kulin menyatakan pengundurkan dirinya dari program pelatihan calon astronaut lantaran alasan pribadi. Kulin jadi pria yang ketiga yang mengundurkan diri dari program astronaut NASA.

Kulin semestinya mengikuti program pelatihan astronaut NASA itu selama dua tahun. Program pelatihan angkatan 2017 ini terdiri dari lima orang perempuan dan tujuh orang laki-laki. Pengunduran diri Kulin membuat jumlah kandidat astronaut di angkatan ini berkurang menjadi 11 orang. Mengutip Slashgear, pihak NASA mengaku tak akan mencari kandidat lain untuk menggantikan Kulin.

Dilansir dari Tech Times, Kulin merupakan seorang sarjana dari University of Denver dengan jurusan Mechanical Engineering. Setelah itu, ia mengambil master di bidang Materials Science dan mendapat gelar Doktor di bidang Engineering dari University of California, San Diego.

Sebelum mengikuti program pelatihan NASA pada 2017 lalu, ia bekerja sebagai seorang manajer senior di perusahaan penerbangan milik Elon Musk, SpaceX dan diketahui turut berperan dalam pengembangan roket Falcon 9. (eks/eks)