Hasil survei menunjukkan hanya 57 persen orang tua yang mengizinkan anaknya hanya mengakses internet apabila diawasi oleh orang tua. Terkait konten atau website yang tidak ramah dengan anak, hanya 51 persen orang tua yang mengizinkan anaknya untuk mengakses konten atau website tertentu.
"Sebagian orangtua melarang anak-anak mereka mengakses media sosial atau bermain game. Sementara itu, ada pula orangtua mengawasi pertemanan instan anak-anak mereka dengan teman-teman mereka di negara lain dengan zona waktu berbeda," ujar Chee Choon Hong, Direktur Asia Consumer Business Symantec dalam keterangan resmi, Rabu (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil riset ini, Symantec juga mengungkapkan lima ancaman siber yang paling ditakutkan orang tua terkait keamanan anaknya. Berbanding terbalik dengan rendahnya pengawasan, orang tua ternyata sadar terhadap ancaman-ancaman siber.
Anak-anak seringkali juga terlalu mudah untuk membagikan informasi pribadi melalui unggahan di media sosial, 91 persen orang tua takut anaknya terlalu banyak memberikan informasi kepada orang asing.
Orang tua takut anaknya terlalu sembrono ketika berseluncur di browser sehinga terserang malware, 90 persen orang tua khawatir anaknya mengunduh program atau virus berbahaya.
"Teknologi telah mengubah cara anak-anak kita tumbuh sehingga orangtua membutuhkan aturan-aturan baru. Keluarga kini berada dalam era yang memandang perdebatan mengenai aturan durasi beraktivitas online hampir sama pentingnya dengan jam tidur," kata Hong. (age)