Laporan dari Singapura

Toyota Antisipasi Kaum Urban yang Enggan Beli Mobil

Tim CNNIndonesia, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 15:13 WIB
Toyota Antisipasi Kaum Urban yang Enggan Beli Mobil Toyota mengumumkan mengubah strategi bisnisnya untuk masa depan. (Dok. Toyota)
Singapura, CNN Indonesia -- Toyota mengumumkan mengubah strategi bisnisnya untuk masa depan dari sebuah perusahaan penyediaan mobil menjadi perusahaan mobilitas. Perubahan ini berdasarkan tren di mana semua orang akan mengubah pola pikir bahwa memiliki mobil bukan lagi hal utama.

Wakil Presiden Toyota Motor Asia Pasifik Hao Quoc Tien dapat memastikan nantinya tersedia mobilitas yang canggih untuk digunakan semua orang di masa depan.

"Mengenai 'Start Your Impossible' (SYI) kamu mungkin sudah mendengarnya dari Mr. Matsuda, kami mengubah perusahaan kami dari perusahaan pembuat mobil menjadi perusahaan yang menjadi penyedia mobilitas," kata Quoc Tien kepada media di sela-sela acara pengumuman kampanye global Toyota SYI di Singapura pekan lalu.



Menurutnya, kampanye global ini sebagai bentuk komitmen Toyota menghadirkan kebutuhan masyarakat dunia akan moda transportasi yang memadai, ringkas dan sanggup menjangkau setiap lokasi. SYI juga diakui untuk mengantisipasi fenomena urbanisasi yang sebagian besar orangnya memanfaatkan ride sharing.

"Kenapa kami melakukannya, sejujurnya ketika kamu melihat mobilitas dari orang di sekitar zaman sekarang banyak yang pindah ke kota besar dan berbagi kendaraan karena situasi kota-kota besar yang macet seperti Jakarta. Banyak orang yang berubah dari kepemilikan mobil menjadi pengguna jasa. Sedikit orang yang ingin memiliki mobil," jelas Quoc Tien.

Quoc Tien memaparkan bahwa Toyota saat ini sangat tertantang mengembangkan mobilitas tanpa batas untuk konsumennya.


Sebelum pengumuman SYI untuk kawasan Asia Pasific di Singapura, Toyota telah menyuntikan investasi sebesar US$500 juta atau sekitar Rp7,3 triliun untuk Uber. Kedua perusahaan tersebut akan mengembangkan moda transportasi baru teknologi bergerak otomatis.

Seperti yang dikatakan Quoc Tien, program yang dimaksud untuk mempermudah masyarakat bepergian dari satu titik ke titik lain. Dengan konsep ini juga diyakini rasio kepemilikan mobil di masa depan sangat kecil jumlahnya.

"Tapi banyak juga yang ingin memiliki mobil karena status sosial dan merasa ingin memiliki, di masa depan orang lebih memilih sebagai penguna jasa saja. Jadi penjual jasa menjadi masa depan di kota-kota besar. Toyota tertantang tidak hanya menjual dan membuat mobil tapi juga ditantang untuk menjadi penyedia jasa untuk mobilitas manusia," tutup Quoc Tien. (mik)