Peneliti Sebut Tak Menyangka Gempa Palu Berujung Tsunami

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/10/2018 09:07 WIB
Peneliti Sebut Tak Menyangka Gempa Palu Berujung Tsunami Gempa bumi dan tsunami yang menerjang Sulawesi Tengah, Jumat (28/9). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gempa bumi bermagnitudo 7,4 skala richter di Sulawesi tengah akibat pergerakan mendatar sesar Palu-Koro mengakibatkan tsunami setinggi 3 meter. Peneliti geofisika kelautan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto mengatakan peneliti tidak menyangka gempa berkekuatan 7,4 tersebut bisa mengakibatkan tsunami.

Ia mengatakan gempa tersebut seharusnya tidak menyebabkan tsunami. Belum lagi mengingat pergerakan mendatar tidak secara efektif bisa mengakibatkan tsunami. 

Nugroho kemudian mencontohkan gempa di Wharton pada tahun 2012 yang berkekuatan 8,5 SR tapi hanya menghasilkan tsunami setinggi 30 cm. 


"Kalau ukuran parameter, gempa tersebut masih tergolong kecil dalam konteks penyebab tsunami itu kecil. Para ahli tidak menyangka kalau gempa dengan mekanisme (pergerakan) seperti itu dan besarnya demikian akan bisa menghasilkan tsunami," ujar Nugroho saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/10).

Nugroho memperkirakan tsunami ini terjadi karena dua faktor.  Pertama bentuk geomorfologi teluk Palu hingga Donggala yang  mengamplifikasi kekuatan tsunami. 

Bentuk geomoroflogi dasar laut di teluk ini sangat curam, melebihi 60 derajat sehingga bisa juga mengakibatkan longsor sehingga terjadi tsunami. 

"Dari 800 meter ke 20 meter sangat terjal, bisa dibayangkan massa air dari tempat yang dalam menjadi dangkal dipindahkan dengan volume  yang sama maka kecepatan sangat tinggi dan gelombang sangat tinggi," tutur Nugroho. 

Kedua Nugroho mengatakan bentuk teluk Palu terlihat seperti kanal tertutup sehingga bisa mengamplifikasi kekuatan massa air laut  yang datang.

'Para ahli setuju bentuk teluk Palu seperti kanal tertutup. Kalau dilihat di peta, teluk Palu menjorok ke dalam. Seperti saluran air selokan yang ujungya satu terbuka dan satu tertutup. Kalau digelontorkan air dari ujung yang terbuka, di ujung yang tertutupnya pasti muncrat," ucapnya.

Nugroho mengatakan mekanisme sesar Palu-Karo adalah tidak sepenuhnya mendatar juga bergerak secara vertikal. Oleh karena itu hal ini juga bisa mengakibatkan bibit gelombang Tsunami. 

"Adanya gerakan vertikal komponen yang bisa jadi mengganggu kolom air diatasnya. Sehingga menghasilkan "bibit" gelombang tsunami. Kemudian gelombang ini mengalami amplifikasi terutama di bagian laut yang mengarah ke teluk Palu," kata Nugroho.

Oleh karena itu Nugroho menyebutkan gempa Palu ini unik dan penting bagi bahan studi untuk memperbaiki sistem peringatan dini tsunami.

"Penting karena peristiwa ini harus digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam menyempurnakan sistem peringatan dini kita agar mempertimbangkan sesar mendatar sebagai sumber tsunami," tutur Nugroho. (jnp/evn)